Latest Post
Ketika Anggota DPR Harus Naik Ojek
Written By Torik on Rabu, 07 September 2011 | 11.28
Objektivikasi Islam: Antara Ka’bah dan Garuda
Written By Torik on Jumat, 17 Juni 2011 | 09.49
Sosiolog dan Magister Filsafat UI
Indonesia seakan tak pernah putus dirundung masalah terkait dengan keutuhan eksistensinya sebagai sebuah nation-state (negara-kebangsaan). Belum selesai negara ini dirongrong oleh gerakan keagamaan yang menamakan dirinya Negara Islam Indonesia (NII), datang lagi satu kasus yang mungkin lebih kecil skalanya, tapi sama merisaukan dalam hal prospek kehidupan berbangsa kita ke depan. Yaitu, tatkala dua sekolah SD dan SMP berbasis agama di daerah Tawangmangu dan Metesih, Karanganyar, Jawa Tengah, kedapatan telah bertahun-tahun menolak menggelar upacara bendera, membaca Pancasila, dan menyanyikan Indonesia Raya. Mereka hanya melakukan itu semua ketika diawasi.
Yang membuat galau dari peristiwa lokal ini adalah kian lunturnya paham kebangsaan Indonesia dan menguatnya radikalisme agama. Lebih lugasnya lagi, ini mencuatkan kembali pertentangan lama antara agama-khususnya Islam-dan negara. Atau, antara Ka’bah dan Garuda.
Objektivikasi
Perseteruan lama antara Ka’bah dan Garuda pada intinya sederhana saja. Yakni, sebagian penganut Islam merasa Islam bukanlah sekadar agama, melainkan juga ideologi. Oleh karena itu, seorang Muslim yang ingin menjalankan Islam secara total (kafah) berarti harus mencita-citakan Islam sebagai dasar negara. Artinya, negara ideal dalam benak orang yang punya pikiran ini adalah negara yang menjalankan syariat Islam berdasarkan Alquran sebagai sumber hukum utamanya.
Di sisi lain, bentuk negara yang menjadikan paham di luar Islam, katakanlah Pancasila, sebagai dasarnya dianggap sebagai negara sekuler yang menyimpang dari ajaran Tuhan. Padahal, Islam dan Pancasila tidaklah usah dipertentangkan karena keduanya memang tidak bertentangan. Sebaliknya, Pancasila sejatinya merupakan objektivikasi dari Islam itu sendiri.
Sebagaimana dikemukakan sejarawan Kuntowijoyo dalam “Identitas Politik Umat Islam” (1996: 68), objektivikasi adalah perbuatan rasional-nilai yang diwujudkan ke dalam perbuatan rasional sehingga orang luar pun dapat menikmati hasil dari perbuatan itu, tanpa harus menyetujui nilai-nilai asal. Maksudnya, Islam sebagai agama yang luhur tentu mengandung nilai-nilai universal. Akan tetapi, apabila nilai-nilai universal itu terbungkus dengan satu nama agama terlembaga (institutionalized religion) tertentu, orang dari luar agama tersebut tentu akan rikuh atau berpikir dua kali untuk menerimanya. Di sinilah objektivikasi memainkan peranan.
Sebagai contoh, Islam mengenal ajaran tentang ukhuwah yang berarti persaudaraan sesama umat. Sebenarnya, persaudaraan ini adalah sebuah nilai universal yang pasti diterima oleh siapa pun. Hanya saja, apabila dibungkus dengan kata ukhuwah, nilai tersebut seakan eksklusif milik Islam semata. Maka itu, konsep ukhuwah perlu mengalami objektivikasi menjadi, misalnya, konsep kesetiakawanan nasional atau kebangsaan yang mewujud dalam perbuatan konkret, seperti program perbaikan ekonomi atau pemerataan kesejahteraan bagi seluruh warga negara. Dengan objektivikasi yang demikian, warga negara yang non-Muslim pun dapat mengatasi hambatan psikologisnya untuk menerima konsep ukhuwah tersebut.
Aspek ketatanegaraan
Bahkan, objektivikasi ini juga sudah tercakup apik di dalam sistem ketatanegaraan kita. Seperti dikemukakan Prof Ismail Suny dalam “Mekanisme Demokrasi Pancasila” (1984: 8), kedua aspirasi ideologis, Islam dan Pancasila, sesungguhnya tidaklah bersifat dikotomis alias beroposisi diametral. Melainkan, keduanya sudah terakomodasi dalam sistem ketatanegaraan Negara Kedaulatan Republik Indonesia (NKRI). Pendeknya, UUD 1945 menganut ajaran Kedaulatan Tuhan, Kedaulatan Rakyat, dan Kedaulatan Hukum (popular theistic nomocracy) sekaligus.
Hal ini bisa dijelaskan melalui dua tahap. Pertama, kedaulatan itu pada hakikatnya pertama-tama berada pada Allah SWT. Akan tetapi, dalam kehidupan bernegara, tentulah Tuhan tidak turun tangan langsung mengaturnya. Pengaturan itu didelegasikan kepada rakyat dalam bentuk Kedaulatan Rakyat. Rakyatlah yang lantas memegang dan melaksanakan kedaulatan itu melalui mekanisme kenegaraan. Ringkasnya, kedaulatan rakyat Indonesia adalah penyelenggaraan kedaulatan Tuhan oleh seluruh rakyat yang merupakan hamba-hamba Tuhan.
Kedua, pelaksanaan perintah-perintah Tuhan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dimusyawarahkan oleh rakyat melalui perantara wakil-wakilnya. Hasil permusyawaratan rakyat itulah yang menjadi bentuk kesadaran hukum rakyat, yang ditetapkan oleh DPR bersama-sama presiden dalam bentuk pembuatan undang-undang.
Dengan kata lain, konsep Pancasila sebagai objektivikasi Islam telah meretas jalan tengah antara paham yang mengagungkan Islam sebagai ideologi (Ka’bah) dan paham yang mengutamakan Pancasila sebagai ideologi (Garuda). Negara Pancasila bisa dianggap sebagai bentuk final dari cita-cita kenegaraan umat Islam Indonesia.
Jadi, tidak perlu lagi ada dilema sebagaimana mungkin dirasakan oleh para murid dan guru di sekolah Karanganyar di atas. Yaitu, dilema untuk menjadi seorang Muslim yang saleh sekaligus sebagai warga negara yang baik dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Toh, pada akhirnya, menjadi warga negara yang baik sebenarnya sama saja dengan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang telah terobjektivikasi.
sumber : http://koran.republika.co.id/koran/24
Tak Semua Masalah Politik Harus Diselesaikan Dengan Cara Politik
Written By Torik on Senin, 06 Juni 2011 | 13.04
pkspanmas.com | Taujih Sekjen PKS HM Anis Matta, Lc(Dalam Konsolidasi Kader & Struktur PKS se-Lampung serta Peresmian GSG Ragom Sejahtera, Kamis, 2 Juni 2011)
TAK SEMUA MASALAH POLITIK HARUS DISELESAIKAN DENGAN CARA POLITIK
Assalamualaikum wr wb
Ikhwan dan akhwat sekalian para mas’ulin DPW Lampung, dan Wilda Sumatra, dan seluruh kader yang saya cintai. Saya bersyukur sekali bisa datang ke sini pagi ini meresmikan gedung baru DPW (GSG) yang lebih bagus dari milik DPP (applause …).
Target menuju 3 besar sudah semakin dekat. Apalagi saya juga tahu bahwa di beberapa kabupaten di Lampung ini sudah nomor 3 ya.
Ikhwan akhwat sekalian.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah ke Malaysia. Tiba-tiba ada goncangan pesawat kemudian ada pengumuman dari pilot “Para penumpang sekalian kita akan mengalami goncangan selama 15 menit setelah itu cuaca akan kembali baik.” Setelah 15 menit goncangan benar berhenti, pesawat terbang normal dan kita landing di Kuala Lumpur dengan selamat.
Saya mengingat itu terus menerus karena kita sedang menghadapi operasi politik secara bersamaan. Dan saya yakin operasi politik itu hanya akan berlangsung 15 menit setelah itu goncangan kembali ke tempat lain, bukan karena kita yang mengarahkan anginnya ke sana (grr..). Goncangan sudah merupakan kemestian yang akan kita hadapi.
Jadi ikhwah sekalian. Dari perjalanan itu saya mencoba-coba rekonstruksi kembali bahwa memang perjalanan kita ini ketika kita memasuki mihwar muasasi bergumul di ruang politik yang luar biasa dahsyatnya.
Ikhwah sekalian saya pernah tanya seorang pilot apa bedanya menerbangkan pesawat siang hari dan malam hari. Pilot menjawab sama saja karena ketika kita sudah di ketinggian yang ada hamparan kosong. Kanan kiri depan semuanya hanya ada awan.
Jadi gelap dan terang tidak penting bagi kita, jawab pilot. Jadi bagaimana cara anda mengetahui arah kalau tak ada bedanya siang atau malam. Kita pake GPS. GPS yang menuntun perjalanan kita ini. Jadi, hal pertama yang diperlukan seorang pilot adalah GPS. Jadi kalo GPSnya ada masalah pasti dia punya masalah, karena ketika kita sudah ngga di bawah kita ngga tau posisi, kalau bukan karena ada GPS.
Saya hadir di Seminar Mukjizat Al Quran tahun 1986. Saya salah satu penerjemah. Salah satu temanya adalah tentang cuaca. Ayat-ayat AlQuran tentang awan menunjukkan bahwa seluruh yang ada di alam semesta tak bisa kita pastikan apalagi dikendalikan tapi bisa kita ramal. Badai kemana bisa kita ramal.
Jadi karena itu seorang pilot harus terus berkomunikasi dengan orang yang ada di tower untuk mendapatkan update info terbaru tentang keadaan cuaca yang keadaan ini adalah fata yang tak bisa dikendalikan tapi bisa disiasati.
Jadi kalau ada perubahan cuaca mendadak, tower bisa bilang rute dirubah, tapi destinasi tak berubah. Jadi seorang pilot menerbangkan pesawat butuh 2 hal ini. Pertama GPS, kedua ramalan cuaca.
Seorang pilot tak bisa mengendalikan cuaca di luar. Itu di luar kendali sama sekali. Makanya kemungkinan dia mengalami kecelakaan selalu ada. Kita juga tak bisa mengendalikan lingkungan yang ada di luar kita ini. Yang ada dalam analisa-analisa manajemen strategis disebut lingkungan strategis yaitu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi situasi dimana kita berada.
Kita tak bisa memastikannya walau kita bisa membaca dan membuat prediksi-prediksi ang disebut prakiraan keadaan. Tapi semua prediksi ini adalah prediksi yang tidak pasti, tapi diperlukan karena itu memberi kita info real time terhadap situasi yang berkembang.
Oleh karena itu, kalau ada keadaan cuaca yang buruk, pilot bilang: tolong kencangkan ikat pinggang. Selain itu apalagi yang bisa kita lakukan? (Audiens: berdoa …).
Ketika Merapi meletus , ke Jogja yang normalnya 50 menit jadi 2 jam. Di pesawat semua pengurus DPP ada disitu. Ketua Majelis Syuro, Bendahara, semua. Jadi kalau pesawat jatuh, kita harus munaslub (grr..). Pesawat bisa tiba-tiba turun 40 meter. Semua diam. Semua dzikir. Ini bukan goncangan 15 menit.
Karena sudah tegang semua tak ada yang bahkan berbisik dengan tetangga. Kita semua tegang jamai.
Lalu saya menoleh ke belakang dan mengangkat tangan: Assalamualaikum. Kita jadi agak normal kembali walau goncangan tetap saja.
Sekali waktu dalam perjalanan ke batam naik pesawat. Transit di pekanbaru, pilot bilang ada kerusakan di mesin jadi kita harus kembali. Beberapa waktu kemudian ada pengumuman dari pilot kerusakan tidak terlalu parah jadi kita lanjutkan perjalanan. Dalam situasi begitu tak ada yang bisa kita lakukan selain kencangkan ikat pinggang dan .. berdoa.
Ikhwah fillah sekalian,
Tak semua masalah politik harus kita selesaikan dengan cara politik.
Kalau antum lihat di AQ kata yang paling banyak terkait dengan sifat atau karakter adalah sabar. Sabar itu artinya bukan bertahan. Tapi terus menerus maju dengan beban yang ada.
Dan pesawat itu kalau ada guncangan yang kita lakukan adalah kencangkan ikat pinggang, bukannya pesawat berhenti parkir di tengah badai.
Kita dapat laporan dari wartawan. Macam-macam. Dalam situasi begini, kita akan hadapi pakai cara apa? Saat perjanjian hudaibiyah sahabat sampai makan daun. Ada saatnya kencangkan ikat pingganag karena tak ada lain yang bisa dilakukan.
Fitnah itu, kata ulama, saking buruknya situasi kita tak bisa lihat tangan kita sendiri.
Dan saat seperti itu, yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Ada saatnya kita kencangkan ikat pinggang.
Kalau antum ambil doa dari orang seperti ayahandanya Nabi Yusuf: Saya hanya mengadukan semua kegelisahan saya kepada Allah.
Ada kisah seorang soleh dirampok di tengah jalan. Tapi perampok merasa tak cukup hanya mengambil hartanya. Saya juga ingin membunuh kamu. Kata orang soleh, tapi kasih saya kesempatan sholat 2 rakaat. Waktu sholat dia berdoa, “ya Allah hadapilah orang ini.” Sebelum dia selesai sholat, perampok sudah mati.
Kaum salaf di antara doa-doa mereka, “Ya Allah ketemukanlah orang zolim dengan sesama orang zalim dan keluarkan kami dari mereka dengan selamat.”
Waktu video mirip saya keluar ada yang mengatakan harus ada operasi politik. Saya katakan lebih baik kita umroh saja sambil menghibur diri dan mohon pertolongan Allah. Kita berdoa dan tak tahu kapan isu itu reda tapi sebelum saya pulang umroh, isu itu reda.
Tidak semua masalah politik harus diselesaikan dengan cara politik. Langit punya cara. Basis spiritual kita harus diperkuat dalam berdakwah. Dengan basis ini kita punya keyakinan.
Allah berfirman bersabarlah karena janji Allah itu benar dan jangan orang-orang yang tidak percaya itu menggoyahkan kamu. Jalan terus tawakkal sambil kencangkan ikat pinggang. Itu cara kita mensiasati. Kita tak hanya berdiam diri.
Kita juga butuh informasi real time. Sambil aware, jangan sampai badai terjadi baru kita mau belok. Tapi kita sudah dapat informasi ini mau ada badai, kita sudah siap.
Jadi ikhwah fillah sekalian, pesawat itu kan goyang-goyang waktu ada badai. Reaksi penumpang beda-beda. Ada yang diam pegang ikat pinggang, ketika goncang menguat naik turun seperti itu ada yang teriak, ada juga yang muntah-muntah.
Kalau goncangan lama banyak yang stress. Naik kapal perintis ke Ambon selama 3 hari. Kami harus berpegangan di kapal selama 3 hari berturut-turut. 3 bulan recovery karena jalan itu seraya goyang dunia.
Pada akhirnya kita berpikir bahwa ujung dari semua ini adalah kematian. Tapi ada juga yang sempat berpikir tentang daftar utang yang belum dibayar. Ada juga yang mikir belum walimah.
Goncangan seperti inilah yang disebut amaliyah tamyiz, proses seleski internal di antara kita sendiri.
Orang-orang yang stress dalam perjalanan panjang itu juga reaksinya macam-macam. Ada yang menyalahkan pilot. Tadi kenapa ga bilang banyak badai, kalo kita tahu kan ga usah terbang.
Tapi apapun reaksi antum, kita harus terus jalan, karena kita tak mungkin berhenti di tengah badai itu, hancur diombang-ambingkan entah mendarat dimana tak jelas.
Jadi apapun yg terjadi di luar, di dalam tak boleh gaduh karena gaduh tak menyelesaikan masalah. Bagaimana kalau lagi goncang begitu nyalah-nyalahin pilot terus pilot bilang ya sudah anda saja ambil alih pesawat. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi.
Perlu diingat, kita naik pesawat ini sukarela, kita memilih naik di pesawat ini. Keputusan pribadi resiko pribadi kitapun kita sendiri menyetujuinya.
Nah ikhwah sekalian,
Dalam keadaan seperti ini kita melihat antara cuaca yang ada di luar dengan reaksi penumpang yang ada di dalam menentukan situasi apakah kita akan tiba di tujuan dengan selamat.
Setelah melampaui operasi politik yang luar biasa, saya coba-coba cari inspirasi karena baca di teori-teori politik ga ada teorinya. Semua asumsi teori politik dilandaskan atas asumsi normal. Saya mencoba mencari insipirasi dimana kita berada. Saya baca-baca terus Surat Al-Ahzab. Saya menemukan banyak inspirasi di surat ini yang artinya partai-partai, golongan-golongan, multipartai.
Ayat 1 sd ayat 7, berbicara tentang keluarga. Ayat 7-27 bicara tentang situasi perang Khandaq. Ayat 28 dst bicara kembali tentang keluarga. Seakan 2 surat ini ingin mengatakan setiap kita punya 2 dunia. Dunia keluarga dan di luar keluarga. Dan kita bisa menghadapi goncangan-goncangan apabila situasi keluarga juga tenang. Bisa dibayangkan jika di luar terjadi goncangan, lalu pulang ke rumah juga dapat goncangan.
Situasi keluarga ini juga digambarkan dalam alquran terkait permintaan tawaran Nabi kepada istri-istrinya. Tawarkan kepada istri-istrimu: Katakan hai Muhammad, bahwa kalau kamu menginginkan kenikmatan dunia maka akan saya berikan kenikmatan dunia, lalu saya ceraikan kalian. Artinya putus hubungan. Ini dilakukan supaya kita tak menghadapi dua front sekaligus.
Salah satu pembahasan tentang Palestina waktu di Sudan, pimpinan Hhamas diprotes sama beberapa ikhwan dari negara lain. Hamas ini kan gerakan perlawanan, Muqawamah. Misinya jihad. Anda sudah melakukanyna. Tapi 4 tahun terakhir anda memegang Gaza dan tak lagi berperang. Hanya keliling-keliling cari duit untuk dibagikan ke rakyat Gaza, sudah menikmati kenikmatan dunia karena berkuasa. Saya pikir benar juga logis juga 4 tahun tak ada perang. Kenapa anda tak menyerang Israel.
Kenapa tak dipakai serang Israel? Sudah punya roket, basis kota, dll.
Ust. Khalid Misyal menjawab tenang. Kalo kita bertempur kita memerlukan hal yang disebut halaman belakang, jadi kalau prajurit maju dia capek mundur istirahat di halaman belakang. Lalu maju lagi.
Seperti mujahidin Afgan melawan Uni Soviet punya halaman belakang namanya Pakistan. Tapi kita di palestina tak punya halaman belakang karena seluruh tetangga palestina adalah kolaborator Israel. Yordan, Syria, Mesir, Libanon tak ada yang bisa jadi halaman belakang.
Orang Palestina manusia biasa juga. Kalau bertempur terus lalu stress bisa melakukan kesalahan terlalu banyak atau bahkan jadi kanibalis. Itu yang tak dimiliki Hamas sekarang. Halaman belakang Hamas adalah Gaza. Kasih kita waktu untuk istirahat.
Kalau perang terus yang mempunyai masalah bukan cuma mujahidinnya tapi juga keluarga yang ditinggal. Seperti masa Khalifah Umar bin Khatab. Seorang perempuan berpantun ria. Isinya aneh kira-kira begini: Demi Allah kalau bukan karena takut padamu, niscaya ranjang ini sudah bergoyang dengan laki-laki lain.
Saat menghadapi perang Timtim, ada tentara yang jadi kanibalis. Ketemu rumah dibakar, orang disembelih, hewan disembelih. Sampai sekarang orang ini kalau ga lihat darah dalam seminggu bisa stres.
Jadi di pesawat disuruh kencangkan ikat pinggang, ingat bahwa kita meninggalkan rumah. Terus pulang ingat akan perang lagi. Sampai ada yang bilang mending pesawat ini meledak saja sekalian (grr…).
Jadi ikhwah sekalian, halaman belakang kita itu adalah rumah kita sendiri. Bayangkan. Lagi ada masalah di luar, istri telpon, “Bi pulang cepat ada masalah di rumah.”
Tentu berbeda jika sekalipun memang ada masalah di rumah, tapi istri mengatakan, “Umi dan anak-anak mendoakan abi.” Tenang kita berangkat. Kita perlu ketenangan itu.
Basis ketahanan keluarga adalah basis yang kuat. Jadi yang menjadi fokus basis ketahanan keluarga oleh bidang perempuan ini sudah benar. Karena kita akan menghadapi masa seperti kaum muslimin di perang Khandaq. Makin kuat goncangan makin butuh halaman belakang yang solid.
Seorang ikhwan ketemu marah-marah sama saya, bukan sama saya tapi sebenarnya sedang stres. Memang nasib saya tak terlalu bagus hari ini. Stres di kerjaan selama lebih dari 12 jam. Pulang diomelin istri, nanti saya mau berdoa. Allah, berikanlah saya istri-istri yang tidak komplain terus sama saya.
Ini joke saja. Jadi memang berat kalau menghadapi dua perang seperi itu, butuh ketahanan jiwa yang luar biasa.
Ayat 27-28 itu Allah mulai merekonstruksi peristiwa perang Khandaq. Dan rekonstruksi ini dimulai dengan 2 premis. Ayat ke 7 dan 8 yang mengatakan: Dan ingatlah tatkala Allah mengambil dari Nabi-nabi itu sebuah perjanjian dan dari kamu Muhammad, dari Nuh, Musa, Isa, kami ambil dari mereka mitsaqon ghaliza. Semua goncangan ini adalah sunnah dalam perjalanan hidup.
Asyadun naas… yang paling keras ujian hidupnya adalah nabi-nabi, lalu yang paling dekat hidupnya dengan nabi-nabi. Jadi siapa saja yang melalui jalan ini pasti mengalami goncangan. Begitu juga Rasulullah saw.
Itu yang disebut mitsaqon ghaliza. Perjanjian yang keras. Supaya Allah menguji orang yang jujur. Kita berbaiat bukan dengan satu orang. Tapi baiat kita uahidullah al adziim. Berbaiat dengan Allah bukan dengan muroqib aam, atau presiden partai. Kadar kejujuran itu yang akan diuji, ini emasnya berapa karat.
Perhatikan Al Ahzab melukiskan Perang Khandaq dan detil-detilnya. Lalu ayat sesudahnya. Dalam jalan hidup kita pasti ada badai, badai ini untuk menguji kadar kejujuran kita itu. Jadi itu semua cuma ujian. Itu kan cuma peristiwa beberapa menit. Benar-benar seperti sebuah drama.
Premis kedua Allah mengatakan: Wahai orang-orang yang beriman ingatlah karunia Allah kepada kalian. Karena yang memenangkan pertarungan ini bukan strategi kalian yang sangat hebat tapi karena Allah menghendaki begitu.
Allah maunya begitu.
Jadi semua strategi ini cuma asbab. Tapi hasil akhirnya seluruhnya ketentuan Allah swt. Tatkala tentara-tentara itu datang kepada kalian, kami kirim kepada mereka badai/angin. Kenapa angin? Isyarat dari Allah bahwa tools Allah untuk menjalankan rencananya sangat banyak.
Memang hanya angin, tapi angin-angin dikumpulin jadi satu, efeknya beda. Angin-angin dikumpulin jadi badai. Dan tentara yang kalian tidak lihat. Dan Allah maha melihat apa yang kalian lakukan.
Detil lukisannya. Tatkala tentara-tentara itu datang di atas kalian… Perang khandaq terjadi pada tahun ke5. Pasukan terdiri dari 10ribu musyrikin. Ini perlu antum perhatian lukisan ini.
H-6 menjelang pertempuran info baru diketahui pasukan muslimin. Terdiri dari 4ribu musyrikin quraisy sisanya musyrikin arab non quraisy. Jadi mobilisasi terbesar dibanding 2 perang besar sebelumnya. Badar 1000 musyrikin, Uhud 3ribu musyrikin. Naik jadi 10 ribu ini mobilisasi yang luar biasa. Puncak mobilisasi.
Tapi yang lebih berbahaya karena info serangan baru diterima H-6. Muslimin Madinah ga siap makanya menggali parit setengah kota madinah. Saat itu musim dingin dan musim paceklik. Dingin madinah bagi yang tahu, beda dengan dinginnya puncak. Menusuk, mudah hidung mengeluarkan darah.
Maka parit khandaq itu digali sejauh lompatan kuda. Lebar 6 meter dalamnya 3 meter.
Masalah lain, bagaimana menyelesaikan pekerjaan itu dalam 6 hari? Itu sudah masalah tersendiri dan ini juga pelajaran tentang speed of consolidation, tingkat kecepatan konsolidasi.
Selain musyrikin dari luar, ada lagi pasukan yang dari bawah yang dekat dengan kalian. Yaitu yahudi madinah yang sudah tandatangan piagam NKRI sebelumnya. Jadi ada 3 kabilah besar yahudi berkolaborasi dengan 10 ribu yang ada di luar. Ada lagi kaum munafiqin dalam jamaah muslim. Ada lagi yang lain: dhuafa muslimin. Orang-orang lemah yang kata Allah: di antara kalian ada yang suka mendengarkan ocehan mereka itu.
Waktu partai diserang ada yang bilang jangan-jangan benar serangan itu.
Jadi ada musyrikin dari luar, ada yahudi, ada munafiqin. Dalam lukisan ini sangat pendek deskripsi tentang musyrikin, yang panjang justru tentang munafiqin dan dhuafa. Yang di dalam yang mengambat kamu, yang membuat kamu ragu-ragu untuk maju.
Begitulah ungkapan sebagian mereka. Musuh terlalu besar. Target terlalu besar. Apalagi hasil survei masih rendah.
Yang dari dalam itu yang paling berbahaya. Yang saya katakan tadi, reaksi penumpang di pesawat bisa beda-beda. Satu teriak-teriak ketakutan, ada yang diam saja. Ingatlah tatkala mata kalian membelalak dan jantung kalian sampai ke tenggorokan dan kalian mulai menduga yang buruk tentang Allah. Saat itulah orang beriman diuji segoncang-goncangnya.
Ada satu masa kita menghadapi semuanya. Apalagi pilot disorientasi, penumpang panik. Fasten seatbelt, dan tawakal. Itu saja.
Perhatikan, ini adalah drama, Allah mengendalikan semuanya, karena pertempuran ini tak selesai dengan pertempuran. Dalam drama Khandaq, apakah ada pertempuran? Begitu kaum musyrikin sampai, mereka bingung kok ada parit, bengong di depan parit itu. Akhirnya mereka mengalami disorientasi. Nunggu-nunggu begitu , yang terjadi saling menatap.
Saat itu pasukan muslimin dibagi dua: 3ribu di pinggir parit sisanya orangtua, perempuan, anak-anak di balik bukit.
Salah satu yang disuruh jaga bukit adalah Hasan bin Tsabit. Penyair, jadi agak mellow (grr..). Ada perempuan mengatakan ada yahudi yang mau menghasut kita, ya Hasan bunuh yahudi itu. Hasan gemetar karena takut, akhirnya perempuan itu yang membunuhnya.
Rajin mendengarkan hasutan dan takut ambil resiko, seperti pengikut nabi Musa: kita nunggu hasil aja deh. Dan ada orang yang seperi itu. Ini semua cuma drama. Bagaimana menyelesaikannya?
Pasukan musyrikin dikirimkan angin, dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan seluruh kemarahan mereka, target mereka tak tercapai. Dan Allah menghindarkan orang-orang beriman dari medan pertempuran.
Seperti ulat bulu, gampang saja Allah kirimkan. Dua orang yang sama bersiasat terhadap kita. Hatinya diputar-putar. Oleh Allah, dua orang ini bertengkar. Siapa yang bikin mereka bertengkar kita juga tak tahu. Ya Allah sibukkanlah orang zalim dengan sesama orang zalim. Karena Allah yang memutarb alikkan hatinya.
Kita diselamatkan Allah dengan caranya sendiri.
Coba antum bayangkan waktu kemarin kita hadapi operasi politik, saat itu kita dihadapkan perjanjian baru yang luar biasa mengekangnya. Oooh.. begini cara kerjanya.
Kita ulur-ulur terus sedikit-sedikit. Kita dengarkan semua sudah tandantangan tinggal PKS. Kita dengarkan terus, kita tahu semua ini hanya drama. Allah yang mengatur semua, ilmu kita ini tidak memadai . Waktu kita mau tandatangan, Ust Lutfi Tanya ke ust Hilmi, tandatandangan ustadz? Muroqib aam bilang tandatangan, kita sudah menang. 90% usul kita diterima di kontrak itu.
Di kontrak kita buat celah agar kita bisa exit ketika ada masalah, cuma orang tak tahu kapan exitnya. Dan kita punya dokumen-dokumen yang tak dimiliki partai lain. Waktu kemudian saya ketemu mereka, Pak Sudi, Pak Joko, saat peringatan hari lahir Pancasila, kita jabat tangannya agak enak.
Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran. Diselesaikan dengan cara Allah swt.
Makanya ikhwah sekalian, dalam situasi sedemikian, tegangnya, tak tahu endingnya dan bikin orang panik, orang yang tak tersambung ke langit gampang menyerahnya. Tapi karena kita tahu skenario Allah, kita jadi tenang menghadapinya.
Waktu nabi Musa diserang Firaun, Allah justru nyuruh ke tepi laut. Teorinya orang dikejar itu larinya ke gunung. Ini ke tepi laut. Mau apa kita di sini? Itu kan hal yang sederhana. Ada rencana yang belum disampaikan Allah swt. Jangan laju dulu. Dikejar tapi jangan laju dulu.
Pada subuh harinya ayam berkokok tak subuh hari, tapi saat matahari mulai terbit. Jadi orang terlambat bangun. Tapi firaun masih santai karena merasa masih bisa menyusul Musa. Begitu Musa sampai di tepi laut, Allah perintahkan pukul tongkat itu.
Firaun bingung, darimana Musa dapat teknologi membelah laut? Setelah Musa dan pengikutnya lewat dan Firaun masuk ke tengah-tengah itu, maka close. Dan sebuah sejarah diakhiri.
Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran.
Yang diperlukan keyakinan penuh yang tak mempan digoyang. Badasi sedikit, kader-kader banyak yang stres, under pressure. Begitu ada kecelakaan kejadian Arifinto, muncul suara dari kader: Pecat!
Padahal ini kesalahan pelanggaran menengah tak perlu sampai sebegitu sanksinya, tapi semua ikhwah di daerah minta pecat! Mundur! Dewan Syariah juga akhirnya under pressure. Akhirnya DSP bikin keputusan sendiri. Arifinto berjiwa besar. Dia ambil keputusan sendiri. Mengundurkan diri.
Tapi antum lihat, itulah efek kepanikan.
Dan sekarang efek ini pindah ke tempat lain. Sebenarnya secara hukum aneh, Nazarudin itu belum ada status hukumnya sudah dicekal. Tapi hakim-hakim sekarang menghadapi masalah yang juga dihadapi di masa suatu khalifah. Khalifah dan rakyat bertengkar. Hakim bingung. Kalau saya menangkan khalifah, dibilang saya subyektif menangin khalifah karena dia berkuasa. Kalau memenangkan rakyat – yang belum tentu benar – saya akan dielu-elukan karena berpihak pada rakyat.
Ini tak ada hubungannya dengan kasus Nazarudin, tapi kita lihat bahwa hakim bisa menghadapi masalah seperti ini.
Saya ketemu mantan ketua KPK Pak Ruki, yang saya katakan KPK bertaji ketika Pak Ruki jadi Ketuanya. Dia katakana permintaan publik terlalu besar. Kemampuan terlalu kecil. Kita dikasih satu kampak, yang mau ditebang hutan. Kita tebang, dibilang tebang pilih, habis itu semua teman kita jadi musuh, kita jadi kehilangan teman ,kehilangan keluarga. Kita menghadapi situasi seperti ini. Kekacauan seperti ini.
Serangan-serangan ini , kita butuh ketenangan.
Jadi ikhwah sekalian, dengan kesadaran bahwa kita menghadapi goncangan, sumber ketenangan kita berasal dari keyakinan kepada Allah swt yakin pertolongan bahwa ujian yang akan dihadapi ini bersifat indiividual. Ujian individual.
Negara ini hanyalah sumber daya yang kita perlukan, bukan yang kita tuju.
Peran utama kita adalah ustadziyah. Negara ini adalah sumber daya. Waktu kita buat partai cuma 3000 orang. Sekarang berapa kelipatanya? Siapa menteri keuangan jaman nabi Muhamad. Siapa kas jaman nabi? Ada kan? DPW Lampung punya kas ga? Kalo ga punya kas ga mungkin punya GSG begini.
Yang masuk islam sebelum hijrah beda dengan yang masuk islam pasca fathu makkah tentu berbeda. Sekitar 100 sampai 125 ribu orang. Yang pasca fathu mekkah masuk Islam karena apa? Karena politik. Yang masuk islam sebelum itu individual. Pemilih individual. Yang pasca fathu makkah komunal, politik. Terjadi kuantum pada kuantitas karena ada efek kemenangan.
Itulah efek Negara, Negara punya efek multiplier, mengapa yang masuk islam pas hijrah sedikit? Karena yang terbayang resiko. Liqo sembunyi-sembunyi. Resiko ditangkap. Jadi kita akan menghabiskan umur produktif kita underground. Yang sanggup melakoni ini adalah yang punya mentalitas hati bersih, akal sehat , berani pula. Ciri-ciri generasi pertama. Generasi muhajirin jumlahnya sedikit, tapi mereka yang memulai arus sejarah. Begitu berkembang jadi arus, yang lain follower. Orang-orang datang masuk islam.
Sebagian orang masuk islam bukan karena percaya pada islam tapi setelah melihat kekuatan islam. Yang masuk islam karena melihat kekuatan islam adalah pengikut politis.
Coba antum lihat berapa kader kita setelah kita jadi partai. Berapa kuantumnya? Berawal dari 500 orang. Lalu 800-an di awal berpartai. Sekarang 33 ribuan. Itulah efek Negara, jadi Negara adalah sumberdaya dan setiap ideologi butuh 2 hal. Pertama komunitas. Kedua, sumber daya. Pertama adalah qiyadah. Kedua junud, follower.
Tapi untuk membangun ini semua butuh sumber daya. Di PKS ideologi jelas. Komunitas jelas. Masalahnya di sumber daya. Kelak setelah PKS memegang Negara ini yang jadi gubernur bukan PKS, tapi mendaftar di PKS jadi gubernur.
Di pergaulan sehari-hari kita dengar ungkapan orang, hati saya di PKS. Itu efek Negara. Efek kemenangan. Mereka bukan saja membuka hati kepada islam tapi juga takut kepada islam.
Makanya fathu makkah 100ribu laki-laki perempuan. Apa yang mereka katakan. Hai Muhammad kamu ini adalah saudara yang mulia, putra dari saudara yang mulia. Begitu sanjungannya.
Akan ada waktunya orang datang pada antum: PKS kumpulan orang soleh, orang-orang dermawan, bagi dong (grr..). Itu sesuai marhalah mereka. Kata Nabi, kalian bebas. Saya tak datang untuk balas dendam. Bukan untuk membunuh tapi untuk buka mata kalian pada kebenaran.
Sekarang kita berbuat baik, masih gampang dioperasi. Nanti saatnya kita berkuasa orang akan berpikir, dia ini bukan cuma baik, tapi juga bisa balas dendam. Selama ini kita masih pakai tawakal saja. Sekarang kita yang akan menyerang mereka. Setelah itu mereka tak bisa menyerang kita lagi.
Ketika datang perintah haji, kafir Mekkah bilang tahulah kalau kita kalah sama orang Madinah, sekarang orang Madinah mau datang haji, apa maskudnya? Ngeledek. Show of force. Maka mereka ga boleh masuk. Lalu terjadilah Perjanjian Hudaibiyah, kenapa Rasulullah menerima. Ini posisi kita diserang. Situasi defensive juga ada di musyrik Qurais. Tahun berikutnya terjadi umroh qodho. Tahun berikutnya fathu makkah. Dan jumlah yang masuk islam pasca fathu makkah berkali lipat dibanding era mekkah sampai perang khandaq.
Negara adalah organisasi yang dibutuhkan masyarakat untuk mengatur Negara. Kalau ada bansos, boleh ga ikhwah nerima? Boleh saja tapi sesuai persyaratan dan perlu diorganisasi. Kalau ga ada organisasi ga ada pertandingan. Kalau ada organisasi tapi ga dihormati ujung-ujungnya perkelahian.
Tapi organisasi ini adalah infrastruktur. Ga ada isinya. Pernah suatu waktu, negara jalan sendiri, agama jalan sendiri. Ketika kita coba mengumpulkan keduanya, itu dalam konteks menyempurnakan infrastruktur dan isinya. Konten dan sumber daya.
Saya heran orang memperdebatkan agama. Ulama sunni menjelaskan hubungan agama dan Negara. Negara adalah penjaga. Agama adalah asasnya.
Kalo ga bikin partai tarbiyah jalan terus tapi tumbuh terbatas. Ketika kita maju ke Negara persoalannya bukan profesionalisme, tapi konfiden. Termasuk kita di DPP beranggapan jarak masih jauh karena butuh banyak keahlian, dst. Padahal sesungguhnya yang dibutuhkan adalah konfiden, rasa percaya diri. Ini bukan tujuan hanya sarana untuk mengukur seluruh rencana dakwah.
Tentang debat hari lahir Pancasila, memang ada kesalahan pada mindset kaum muslimin saat itu dalam memandang masalah. Bukankah Pancasila adalah perjanjian terbuka. Makanya seluruh aliran dimasukkan disini jadi konsensus bersama. Sila pertama cuma 2 yaitu asas religiusitas: semua org Indonesia Beragama. Maka yang dipakai adalah kalimat umum: ketuhanan yang Maha Esa. Karena Indonesia terlalu beragam. Dan karena pimpinan Indonesia saat itu menganut sosialis.
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Asasnya keadilan, ga ada kata kemakmuran karena kultur kita lebih berinterpretasi pada pemerataan daripada kemakmkuran. Baru ada di mukadimah UUD. Kita lihat ketika pancasila lahir, begitulah situasinya.
Ditanya PKS asasnya Pancasila atau Islam? Saya tanya apakah itu pertanyaan? Ini semua sudah selesai 3x. Pancasila adalah konsensus bersama. Selesai. Kenyataannya, sekarang pancasila ga dilirik lagi oleh anak muda. Maka PKS saatnya mentakeover seluruh isu nasionalisme (applause…). Jangan lagi jadi pertanyaan.
Ini semagnat sinkretisme di budaya jawa karena kalau antum lihat semua agama pernah lahir di Jawa. Beruntunglah sudah ada hindu dan budha, lalu Islam datang langsung jadi mayoritas. Kristen datang tapi jumlah penganutnya tidak terlalu berkembang.
Islam masuk melalui jalur niaga. Pedagang-pedagang arab. Mereka berdagang, dilihat akhlaknya bagus lalu kawin dengan anak raja. Lalu jadi raja. Begitulah Islam jadi mayoritas. Ini diceritakan dengan runtut oleh seorang penulis dari Australia. Dari abad 13 sampai dengan sekarang bisa dibilang seluruhnya adalah sejarah islam. Tapi common platform: seperti rasulullah ketika memfutuhkan mekkah. Persepsi awalnya orang-orang ini akan menyerang kita.
Mereka harus diredam semangat permusuhannya. Siapapun yang menyerang madinah, yang paling mungkin diserang adalah orang Islam. Tapi kepada Yahudi, kaum kafir di Madinah, Rasulullah bilang kita semua diperangi.
Wa mualafati qulubuhum. Ada orang yang perlu dilembut-lembutkan hatinya. Pakai apa? Pakai fulus.
Pancasila = common platform. Ketegangan ini lebih karena semangat orde baru memaksakan asas tunggal dan karena islam sudah lama termarjinalisasi. Dan orang Islam seperti melihat Negara di kejauhan.
Di harlah pancasila ada ikhwah pakai kopiah putih. Ditanya kok ga pake kopiah hitam? Dia jawab urusan saya bukan sama pancasila, urusan saya sama quran dan sunnah. Bagaimana mempertahankan mindset ini pada saat yang sama kita yang harus mengisi ruang kosong yang ada sekarang.
Tahun 2008 kita ingin membuka sekat-sekat islam dan nasionalisme. Sekarang bukan lagi menghilangkan sekatnya tapi take over agar kita bukan cuma bicara atas nama umat tapi atas nama bangsa keseluruhan.
Oleh karenanya perlu memperdalam tsaqofah nasionalisme. Untuk memperkuat semangat memiliki negara ini. Kita bukan orang luar. Kita ini orang dalam. Ahlul bayt Negara ini. Sifat-sifat, perasaan ini, yang harus dihilangkan. Salah satu sebab kemenangan adalah hilangnya kepercayaan pada partai-partai lama. Tapi pertanyaannya adalah apakah PKS bisa mewakili semua pihak bukan hanya dirinya sendiri,
1999 kita ikut sidang baru dikasih hak bicara. Kita belum memimpin sidang. Sekarang punya hak mengambil keputusan. Apa kerjanya kalau belum menguasai Negara? Mengangkat orang agar menguasai jabatan.
Wallahu alam.
(not. detti febrina)
*)sumber: http://berandakeadilan.blogspot.com/2011/06/taujih-sekjen-pks-tak-semua-masalah.html
KulTwit @hudarrr Putra Ustdz Yoyoh Yusroh, Tentang Tanda-Tanda Sebelum Meninggal, Kronologis, dan Prosesi Pemakamannya
Written By Torik on Selasa, 31 Mei 2011 | 15.44
pkspanmas.com | ini hasil kulwit salah satu putra beliau Huda Robbani (@hudarrr), Smoga dg membaca kronologis ini kita bs mngambil hikmahnya…subhanallah.
Pengen menunaikan jani utk kultwit ttg nyokap dengan hashtag #BundaYoyoh
Pertama, mengenai beberapa pertanda yg tdk biasa dr #BundaYoyoh sblm kepergiannya
Bertepatan dgn seminggu kepergiannya ini, scr umum saya akan kultiwt ttg tanda2 sblm beliau meninggal, kronologis, dan prosesi pmkmnnya
Smg bs menjawab bbrp hal dan meluruskan apa yg krg benar. Selamat menyimak..
1. #Tanda1: Sebulan yg lalu, tdk biasanya Ummi mandi di kantor dan mengenakan minyak wangi byk2 #BundaYoyoh
2. Lalu Ummi nyeletuk ke asprinya di DPR (Mb Effie): “Fie, kyny sbntr lg aku meninggal deh. Mkny aku bersih2. Siap2 ktm Allah” #BundaYoyoh
3. Mbak Effie hny menyahut: “Masa sih bu?” Menganggap itu hny candaan #BundaYoyoh
4. #Tanda2 Setahun belakangan, Ummi jg sering tiba2 bilang ke Abi: “Bi, abi siap gak kalo Ummi nanti meninggal?” Abi diam #BundaYoyoh
5. Lalu lanjut Ummi: “Kalau Ummi Insya Allah siap. Tapi gmn dengan Abi dan anak2?” #BundaYoyoh
6. #Tanda 3: Bbrp hari sblm kejadian, di rumah Mak Haji (nenek saya, ibunya Ummi) di Tangerang yg skrg jd tmpt ummi dimakamkan #BundaYoyoh
7. Tdk biasanya didatangi sgerombolan burung2 kecil. Org2 heran&bertanya ke Mak Haji: “Mak, akhir2 ini knp byk bgt burung ya..?” #BundaYoyoh
8. Mak Haji jawab, “Iya nih..Kalo kata org dulu sih, tandanya bakal ada org besar yg meninggal” :) #BundaYoyoh
9. #Tanda4: Tgl 17 Mei 2011, Ummi sempat merekam satu video nasehat utk ditayangkan di suatu acara #BundaYoyoh
10. Tdk disangka, video yg tanpa skrip itu merupakan rekaman trkhr Ummi semasa hidup #BundaYoyoh
11. Dan di akhir nasehatnya Ummi bilang: “Insya Allah kita akan bertemu di syurga” :) #BundaYoyoh
12. Video perpisahan trsbt dpt disaksikan disini http://bit.ly/j10X35 #BundaYoyoh
13. #Tanda5: Tgl 18 Mei 2011,sy&kakak2 sy yg tertua tiba2 dpt email(trkhr)dr Ummi pkl 08:31 WIB dgn sub: Nasehat utk Sang Putera #BundaYoyoh
14. Email tsb brisi wasiat2/nasehat2 panduan hidup yg sgt mnyntuh.Abg sy @aizzajundana mempostnya bisa di baca disini http://bit.ly/mdJ1Xr #BundaYoyoh
15. #Tanda6: Ummi smpt memesan ke asprinya ratusan box snack utk ‘acara’ hr Sabtu 21 Mei pkl 10:00 WIB #BundaYoyoh
16. Ketika belakangan dicek, kt sadar bhw Ummi sdg ga pny agenda jam segitu. Dan blkgn jg kita sm2 tahu #BundaYoyoh
17. Bahwa Sabtu 21 Mei pkl 10:00 WIB kmrn itu adalah saat jenazah Ummi tiba di tmpt persemayaman (Kalibata) #BundaYoyoh
18. Sehingga akhrnya snack itu digunakan utk konsumsi para pelayat #BundaYoyoh
19. #Tanda7: Ketika di Magelang, 2 hr sblm kecelakaan, keluarga disana mencoba utk mengabadikan foto Ummi sendirian #BundaYoyoh
20. Namun entah knp ketika sdh dipotret hasilnya gagal/tdk terpotret. Hanya ada sekelebatan putih tanpa wajah Ummi #BundaYoyoh
21. Itu terjadi 4x berturut2. Pdhl ktika memotret anggota keluarga yg lain selalu brhsl. Bgitu jg ktk Ummi dipotret tdk sndirian #BundaYoyoh
22. #Tanda8: Bbrp org yg bertemu Ummi 1-2 hr sblm kecelakaan trjd, mmbrikan testimoni bhw mrk melihat Ummi menjadi bgitu berbeda #BundaYoyoh
23. Jadi lbh byk senyum, lbh byk bercanda, terlihat spt lebih awet muda. Ada yg blg Ummi spt berusia 30 thn pdhl usianya 48 thn #BundaYoyoh
24. Dan trdpt bbrp tanda2 lainnya yg bs di-share lain kali, blm semua narasumber cerita jg soalnya :) #BundaYoyoh
25. Ummi brgkt ke Yogya Rabu, 18 Mei 2011 utk menghadiri wisuda @bangumar, abang saya, anak pertama #BundaYoyoh
skrg masuk ke bagian kronologi kejadian
26. Sengaja melalui perjalanan darat krn ingin silaturrahmi ke Magelang, rmh Eyang Gatot. Kakeknya Abi & mnghdr prnkhn khadimah. #BundaYoyoh
27. Rombongan trdr dr 2 mbl. Mbl Innova hitam trdiri dr Abi,Ummi,Umar (putra1), Sholah (5), Ayyasy (8), KongBun&Hanafi (driver) #BundaYoyoh
28. Stlh wisuda, rombongan smpt ke Magelang silaturrahmi dan mlnjtkn ke pernikahan mbak di rmh yg menikah di blgn Jabar #BundaYoyoh
29. Akhirnya prjlnn dilanjutkan menuju Jakarta melalui tol Palikanci, Cirebon tsb #BundaYoyoh
30. Pada Sabtu dinihari sktr pkl 2, mendadak Pak Hanafi mengantuk, adik saya yg nmr 5 (Sholah) berinisiatif menggantikan #BundaYoyoh
31. Posisi duduknya saat itu adik saya menyetir, disblhnya (dpn kanan) Pak Hanafi. Di tengah kiri Ummi, di tengah kanan Abi #BundaYoyoh
32. Sementara di blkg (dari ki-ka) Ayyasy, Umar, dan Kong Bun #BundaYoyoh
33. Ummi mmg selalu duduk di kursi tengah bagian kiri setiap naik mobil. Itu lokasi favoritnya #BundaYoyoh
34. Di pojok yg sama pula Ummi selalu tilawah/muraja’ah hafalan Qur’annya setiap naik mobil #BundaYoyoh
35. Pada saat kejadian, Ummi mmg tdk mengenakan seatbelt. Abi yg biasa mengingatkan jg lupa mengingatkan Ummi #BundaYoyoh
36. Mobil melaju kencang dgn kecepatan konsisten 120 km/jam, seisi mobil tidur kecuali adik saya yg menyetir #BundaYoyoh
37. Tiba di tikungan tajam lokasi kejadian, adik saya yg sdg tdk dlm kondisi mengantuk mendadak krg antisipastif di tikungan tsb #BundaYoyoh
38. Salah persepsi krn dikira hanya tikungan biasa, bukan tikungan tajam #BundaYoyoh
39. Di tambah saat itu penerangan redup, shingga mata mnjd kurang jeli #BundaYoyoh
40. Karena kaget dan reflek ingin melakukan penyelamatan agar mobil tdk terbalik, adik sy smpt membanting setir #BundaYoyoh
41. Namun tetap kecelakaan tdk bs dihindari, sehingga mobil menabrak pembatas jalan (beton) yg mengenai mobil bag. kiri #BundaYoyoh
42. Tabrakan trjd sgt hebat dan keras, kontan seisi mobil terbangun. Warga berteriak kaget & berduyun dtg #BundaYoyoh
43. Dlm keadaan tsb, sktr 5 menit pertama seisi mobil shock. Kong Bun yg ada di blkg Abi mendadak sdh di tgh #BundaYoyoh
44. Seisi mobil sesak nafas dan tdk tahu hrs berbuat apa. Sholah yg menyetir lgsg buka pintu. Kondisinya tdk knp2 #BundaYoyoh
45. Ia tdk luka sdktpun. Yang lain jg blm merasakan dampak apa2, msh diliputi rasa shock #BundaYoyoh
46. Ummi yg saat itu di tgh bagian kiri mengalami dampak yg plg kuat. Beliau terbentur bagian dpn mobil dgn posisi kepala lgsg #BundaYoyoh
47. Ditambah trdpt dorongan dr blkg,jok lepas shgg dia jatuh tersungkur. Stlh kcelakaan abi smpt membenahi posisinya kmbl ke jok #BundaYoyoh
48. Namun di dahi Ummi sdh mengucur darah, Abi menduga itu hny luka biasa. Nmn sbnrnya kmgknn Ummi tgh mengalami pendarahan #BundaYoyoh
49. Smntr warga yg berduyun2 mencoba mencari pertolongan, dan mencoba membuka pintu disisi ummi dgn linggis dsb #BundaYoyoh
50. Dalam keadaan spt itu, Ummi msh dlm keadaan sadar dan mengabsen anak2nya satu persatu. “Sholah mana? Masih hidup ga?” Dll #BundaYoyoh
51. Ia mengira kondisi yg lain lbh parah dari dirinya. #BundaYoyoh
52. Kemudian tiba2 Ummi smpt mnjd ‘agak emosional’ dan bilang: “Aduh dada Ummi sakit. Rasanya spt mau meninggal” #BundaYoyoh
53. Kontan Abi & seisi mobil mengingatkan: “Istighfar mi”. Umi berucap “Astaghfirullahaladzim” #BundaYoyoh
54. Ummi tiba2 juga berucap: “Abi, Ummi sedang sakaratul maut”. Abi dan seisi mobil krg percaya nmun bilang “Nyebut mi…” #BundaYoyoh
55. Lalu Ummi berucap “Asyhadu anlaa ila hailallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah” dgn lancar #BundaYoyoh
56. (Di titik ini kami lega krn trnyt Ummi telah mengucap syahadat) #BundaYoyoh
57. Trs berulang. Menunggu ambulans datang, Ummi senantiasa menyender di bahu Abi dgn trs berdzikir #BundaYoyoh
58. Ambulans pun datang. Semua yg terluka dibawa masuk terlebih dahulu #BundaYoyoh
59. Dalam perjalanan Ummi sdh dlm keadaan tenang tnp suara, yg lain beristirahat. #BundaYoyoh
60. Namun adik saya yg nomor 8 (Ayyasy) sempat melihat tiba2 dengkul Ummi terangkat dgn sendirinya sebanyak 2x #BundaYoyoh
61. Pada saat itulah kmgknn malaikat pencabut nyawa sdg melaksanakan tugasnya #BundaYoyoh
62. Ketika Sholah dan Pak Hanafi yg belakangan menyusul tiba di RS, jasad Ummi sdh ditutup kain seluruhnya #BundaYoyoh
63. Ummi ternyata telah wafat, menghembuskan nafasnya yg trkhr sktr pkl 03:30 WIB di RS Mitra Plumbon Cirebon #BundaYoyoh
64. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Umi tlh wafat. Sontak keluarga menangis & mengabari smw pihak utk mengurus pemakamannya #BundaYoyoh
65. Kabar duka mengenai wafatnya Ummi tlh cpt menyebar, baik lwt tv, radio, internet, sms dsb #BundaYoyoh
66. Telah direncanakan utk prosesi persemayaman akan dilakukan di Masjid Baiturrahman Komplek RJA DPR RI Kalibata #BundaYoyoh
Skrg saya akan msk ke bagian prosesi prsmymn – pemakaman almrhmh
67. Smntr jenazah disepakati dimakamkan di rumah nenek saya di Batu Ceper, Tangerang ats
permintaan keluarga nenek #BundaYoyoh
69. Mulai dr proses persemayaman hingga pemakaman, byk sekali respon yg dtg #BundaYoyoh
70. Byk sekali yg kehilangan dgn sosok Ummi. Pjbt, anggota dwn dr brbagai fraksi, tokoh nasional, politisi, ikhwah, msyrkt dsb #BundaYoyoh
71. Hal itu trlht jg dr ratusan karangan bunga dan jmlh pentakziyah yg membludak. #BundaYoyoh
71b. Termasuk ucpn belasungkawa dr slrh dunia, berbagai negara dunia #BundaYoyoh
71c. Ismail Haniya jg mengabarkan duka cita warga Palestina krn Ummi adlh WN Kehormatan Palestina #BundaYoyoh
72. Komplek DPR disesaki ribuan org pelayat. Sholat jenazah diadakan 2 shift, itupun 70% pelayat tdk kebagian #BundaYoyoh
73. Ketika jenazah Ummi diangkut ke ambulans, dan konvoi menuju Tangerang, #BundaYoyoh
74. Menurut Patwal yg mengawal, konvoi utama menuju pmkmn diikuti ratusan mobil dgn panjang iring2an lbh dari 3 km #BundaYoyoh
75. Begitu jg ktk di area pemakaman, belasan ribu org memadati lokasi, 80% diantarany tdk tertampung dan tdk bs masuk ke lokasi #BundaYoyoh
76. Alhmdllh itu menandakan Ummi adlh sosok yg begitu berarti bagi byk orang :’) #BundaYoyoh
77. Saya pribadi smpt ikut di proses memandikan, mengafani, dan menyolatkan Almarhumah. Jnzh terasa sgt ringan #BundaYoyoh
78. Dan kami menyaksikan dgn sangat jelas bahwa Ummi meninggal dlm keadaan tersenyum :’) http://lockerz.com/s/103761305 :) #BundaYoyoh
79. Alhamdulillah. Semoga itu merupakan pertanda yg jelas bhw beliau meninggal dlm keadaan husnul khotimah :) #BundaYoyoh
80. Kami dari keluarga jg alhamdulillah sdh bs mengikhlaskan kepergiannya #BundaYoyoh
81. Krn kami percaya dr berbagai tanda2 yg diberikan, dr bagaimana almarhumah semasa hidupnya beribadah, #BundaYoyoh
82. Mendidik kami dgn penuh kasih & cinta, mnjlnkn amanah yg diberikannya dgn baik, dan bgmn dia memberikan pengaruh & brbakti #BundaYoyoh
83. Yang luar biasa kpd masyarakat, adlh suatu hal yg memberikan byk hikmah #BundaYoyoh
84. Sehingga ketika Allah Yang Maha Kuasa lbh sayang kepadanya dgn memanggilnya terlebih dahulu, #BundaYoyoh
85. Kami hrs ikhlas dan tabah, serta mudah2an dpt mewujudkan harapan2nya kpd kami #BundaYoyoh #BundaYoyoh
86. Sekaligus meneruskan cita2nya yg belum tercapai. Smg kami bs seperti dia, #BundaYoyoh
87. Wanita luar biasa yg dr rahimnya telah mengandung dan melahirkan kami, yg tlh memberikan teladan kpd kami dgn caranya #BundaYoyoh
88. Mendidik kami dgn penuh cinta, keteladanan & keshalihatan yg luar biasa… #BundaYoyoh
89. Selamat jalan Ummi kami, Ummi Yoyoh Yusroh. Sang mujahidah syahidah. Ila liqo’ :) #BundaYoyoh
Sumber : blogtorik.com
Jadilah Murobbi, Kalau Kau Cinta Dakwah ini.....
Written By Torik on Jumat, 27 Mei 2011 | 09.15
...
Ahad yang cukup cerah. Hari yang special bagi kawulo mBantul, Ngayogyakarta Hadiningrat. Terlihat kesibukan di sana sini sejak pagi, pengerahan massa yang akan diberangkatkan menuju Stadion Manahan Solo. Tiada lain guna mendukung laga Persiba Bantul vs Persidafon Dafonsoro dalam laga semi final Liga Utama 2010-2011 Ahad (22/5) sore harinya.
Namun di sela-sela lalu lintas dalam pengawasan extra itu, sekumpulan pengendara dari berbagai penjuru Bantul tak kalah zig zag mengejar aktivitas yang sudah teragenda sebelumnya. Mereka menuju satu titik di pusat kota Bantul, tepatnya Ruang Sidang DPRD Kab. Bantul.
Hari itu DPD PKS Bantul memang sudah mengagendakan Dauroh Murrobi untuk Level Muayyid se-mBantul (perwakilan dari 17 DPC). Setelah registrasi dirasa cukup, tepat jam 9.00 wib acara dimulai. Lantunan ayat suci Al Qur’an mengawali kajian Dauroh hari itu. Dilanjutkan dengan Sambutan pengantar yang disampaikan Ust. Jupriyanto selaku ketua DPD PKS Bantul.
“Saya sungguh surprise dengan ghirah antum semua, jumlah peserta disini tercatat 2 kali lipat dari target yang kami canangkan,” ungkap Ust. Jupri dalam sambutannya setelah sebelumnya peserta diajak hening sejenak untuk mendoakan Mujahidah Da’wah Ustz. Yoyoh Yusroh yang telah purna tugas di dunia ini. Ust. Jupri juga menjelaskan target2 kaderisasi yang harus diraih dalam kaitannya dengan pelebaran dakwah. Memang lebih dari seratus ikhwan akhwat memenuhi ruangan itu, Piyungan sendiri mengirim utusan 12 ikhwan dan 2 akhwat.
Sesi "Murrobi dan perannya dalam peradaban Islam dewasa ini" disampaikan oleh Ustadz Arif Haryanto, Mantan Ketua DPD PKS Bantul periode sebelumnya, yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Kab. Bantul. Lebih specific beliau memaparkan kiprah dakwah dalam percaturan politik.
"Asyiknya Jadi Murrobi" menjadi tema lanjutan hingga waktu Sholat Dzuhur memanggil. Disampaikan oleh Ustadz Chairul Jahriyah, joke segar dan penyampaian yang sangat motivatif menghidupkan suasana hari itu. Ada formula kunci yang disampaikan untuk penguatan confidence untuk peserta:
PP + PP x A = SC
PP + PP x A = SC
PT = Positive Thinking
PP = Potential Power
A = Action
SC = Self Confidence
Setelah Sholat dan disela sela makan siang, diputar video Taujih dari Ustadz Anis Matta tentang I’dad Murrobi. Bagaimana organisasi bertumbuh dan ber-ekspansi untuk kemudian menjadi pemimpin peradaban. Walau hanya via video, tapi kalau Anis Matta yang bicara memang gregetnya sangat luaarrr biasaaaaa. Saya jadi teringat twit seorang teman beberapa waktu lalu yang menceritakan kekaguman (alm) Bunda Yoyoh Yusroh kepada Anis Matta. Pada suatu kesempatan rapat Fraksi PKS, usai Anis Matta memberi pengarahan, Bunda berkata "Kalau Anis Matta sudah bicara, itu sudah mencukupi semua...".
Memasuki Sesi terakhir Dauroh Murobbi, acara kemudian dilanjut dengan workshop Murrobi, peserta dipandu untuk membuat Silabus Tarbiyah dengan mengacu Muwashoffat Tarbawiyah. Dibuat secara berkelompok ke sepuluh muwashoffat Tarbawiyah tsb dipresentasikan secara kelompok sehingga memudahkan peserta mengacu dan mengaplikasikan diri menjadi Murrobi. Siap jadi murobbi...? Harus!
Menjadi murobbi adalah bukti kecintaan kita pada jalan dakwah ini, karena dakwah ini hanya akan terus berputar kalau masih ada para murobbi, karena murobbi akan melahirkan generasi pengganti. Menjadi murobbi juga bukti bahwa kita mengagumi sosok "Sang Murobbi" Rahmat Abdullah dan "Sang Murobbiyah" Bunda Yoyoh Yusroh, kekaguman yang menggerakkan diri untuk berkontribusi bukan sekedar untuk bernostalgi.
“Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab?
Bila semua menghindar, biarlah saya yang menanggungya, semua, atau sebagiannya…“
(Ust. Rahmat Abdullah)
*)penulis: Abuafnan Widodo
*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Penutup Nubuwwah
Written By Torik on Sabtu, 23 April 2011 | 12.06
pkspanmas.com | Umar marah besar. “Siapa yang mengatakan Muhammad sudah mati”, katanya saat mendengar berita kematian itu, “niscaya akan kupenggal lehernya.” Ali terdiam tak sanggup bicara, Usman tergagap tak sanggup berkata. Hanya Abu Bakar yang masuk membuka kafan yang menutupi tubuh Muhammad. Setelah melihat wajahnya, Abu Bakar lantas mencium keningnya lalu berkata: “Alangkah baiknya kamu saat hidup dan saat wafat.” Setelah itu keluarlah beliau sambil berkata: “Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah mati. Dan siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tak akan mati.” Sang Nabi telah wafat. Berita kematian itu segera mengguncang seluruh Madinah, jazirah Arab bahkan dunia. Tapi ada peristiwa yang jauh lebih penting dari itu: kematian Muhammad juga telah menjadi penutup mata rantai kenabian yang panjang yang telah mengisi lembar kehidupan umat manusia. Itu adalah kesedihan di atas kesedihan.
Selama ini kita hanya membaca 25 kisah nabi dan rasul dalam Al-Qur’an. Padahal jumlah nabi dan rasul jauh lebih banyak dari itu. Beberapa ulama bahkan menyebut angkanya sekitar 350 nabi dan rasul. Kehidupan manusia dimulai dari seorang lelaki, Adam, dan seorang perempuan, Hawa, yang kemudian membentuk keluarga. Keluarga itu kemudian beranak pinak dan secara perlahan membentuk suku. Lalu suku yang menjadi simpul besar keluarga berkembang makin banyak sampai pada suatu skala yang kemudian kita sebut bangsa. Bersamaan dengan itu wilayah bumi yang dihuni manusia juga makin luas.
Pada setiap tahapan pertumbuhan itu selalu ada nabi dan rasul yang datang membawa risalah yang sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka. Pesan intinya adalah tauhid, tapi syariatnya yang disesuaikan dengan situasi mereka. Mereka adalah kafilah para pengajar yang datang membawa kitab suci. Ada guru ada kitab. Itulah inti dari semua proses pembelajaran. Tapi ketika Muhammad diutus, manusia telah sampai pada tahap kematangan akal yang memungkinkannya belajar melalui kitab tanpa kehadiran sang guru.
Maka menutup mata rantai kenabian setelah Muhammad adalah manifestasi kepercayaan Allah kepada kemampuan akal manusia untuk belajar melalui hanya narasi, tanpa narator. Itu sebabnya Allah berkata: “Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an ini, adakah yang mau memahami?” [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 224]


