Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Air Mata Saya Menetes di Rumah Dr Hidayat Nur Wahid

Written By Torik on Selasa, 04 Oktober 2011 | 17.00

pkspanmas.com | Bismilaahhir Rahmaanir Rahiim,
Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk ikut dalam acara buka bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah dinasnya, kompleks Widya Chandra dengan beberapa ikhwah. Ketika saya masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam hati saya bergumam sendiri: Alangkah sederhananya isi rumah ini.
Saya melihat lagi dengan teliti, meja, kursi2, asesori yg ada, hiasan di dinding. SubhanaLLAH, lebih sederhana dari rumah seorang camat sekalipun. Ketika saya masuk ke rumah tsb saya memandang ke sekeliling, kebetulan ada disana Ketua DPR Agung Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri Agama, dan sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta anggota DPR-RI, serta pejabat-pejabat lainnya.
Lagi-lagi saya bergumam: Alangkah sederhananya pakaian beliau, tidak ada gelang dan cincin (seperti yang dipakai teman-teman pejabat yangg lain disana). Ternyata beliau masih ustadz Hidayat yg saya kenal dulu, yang membimbing tesis S2 saya dengan judul: Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren PERSIS Tarogong Garut). Terkenang kembali saat-saat masa bimbingan penulisan tesis tersebut, dimana saya pernah diminta datang malam hari setelah seharian aktifitas penuh beliau sebagai Presiden PKS, dan saya 10 orang tamu yang menunggu ingin bertemu.
Saya kebagian yg terakhir, ditengah segala kelelahannya beliau masih menyapa saya dengan senyum : MAA MAADZA MASAA’ILU YA NABIIL? Lalu saya pandang kembali wajah beliau, kelihatan rambut yang makin memutih, beliau bolak-balik menerima tamu, saat berbuka beliau hanya sempat sebentar makan kurma dan air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib terus banyak tokoh yg berdatangan, ba’da isya & tarawih kami semua menyantap makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar negeri yang ingin wawancara.
Tidak terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya ALLAH jihad ana dibandingkan dengan beliau, saya masih punya kesempatan bercanda dengan keluarga, membaca kitab dsb, sementara beliau benar-benar sudah kehilangan privasi sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian kesabarannya untuk terus konsisten dalam kebenaran dan membela rakyat. Tidaklah yang disebut istiqamah itu orang yang bisa istiqamah dalam keadaan di tengah-tengah berbagai kitab Fiqh dan Hadits seperti ana yang lemah ini.
Adapun yang disebut istiqamah adalah orang yg mampu tetap konsisten di tengah berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan lingkungan yang amat jahat dan menipu. Ketika keluar dari rumah beliau saya melihat beberapa rumah diseberang yang mewah bagaikan hotel dengan asesori lampu-lampu jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana bertanya pada supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka jawabnya : Oh, itu rumah pak Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa partai besar. Dalam hati saya berkata: AlhamduliLLAH bukan menteri PKS. Saat pulang saya menyempatkan bertanya pada ustadz Hidayat: Ustadz, apakah nomor HP antum masih yang dulu?
Jawab beliau: Benar ya akhi, masih yg dulu, tafadhal antum SMS saja ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yang masuk tiap hari ratusan ke saya. Kembali airmata saya menetes. alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yang bersabda bahwa orang pertama yang dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari Kiamat nanti adalah Pemimpin yang Adil. Sambil berjalan pulang saya berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin yang adil dan dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dalam memimpin negara ini. Aaamiin ya RABB.
Penulis: Ust Nabil Almusawa
Sumber : http://www.jalanpanjang.web.id/2009/09/air-mata-saya-menetes-di-rumah-dr.html

Biarkan Cinta Bersemi di Otak Kita

Written By Torik on Rabu, 21 September 2011 | 16.55

pkspanmas.com |
Barusan saya membaca artikel bang Alex Pangestu di nationalgeographic.co.id yang bertajuk “Cinta itu Ilmiah, Kata Ilmuwan”. Saya tersenyum sendiri membaca artikel menarik tersebut, karena demikian pesat ilmu pengetahuan, demikian banyak ilmuwan, demikian canggih teknologi, namun tetap tidak mampu memecahkan rahasia jiwa manusia. Salah satu yang ada dalam jiwa manusia adalah perasaan cinta.
Saya menyebut istilah “jiwa” barusan. Padahal belum selesai diletakkan, sesungguhnya rasa cinta itu berasal dari mana ? Kita bisa berpanjang lebar berdiskusi soal ini, dan tidak pernah selesai. Sejak dari mendefinisikan kata jiwa, akal, ruhani, ruh, perasaan, sanubari, dan lain sebagainya; hal-hal yang relatif abstrak namun nyata. Termasuk juga mendefinisikan kualitas hati dan otak; ada apa sebenarnya di dalam hati dan di dalam otak ? Sampai diskusi tentang rasa cinta, dari mana datangnya, dimana letaknya, dan lain sebagainya. Bahkan mendiskusikan definisi atas kata cinta itu sendiri.
Konstruksi Budaya versus Penelitian Ilmiah
Dalam budaya masyarakat Indonesia, perasaan dianggap menjadi kualitas hati, sedangkan pemikiran dianggap menjadi kualitas otak. Misalnya kita mengatakan, “Hati saya merasa sedih”, atau “Hati saya sangat gembira”. Sedih dan gembira adalah perasaan, maka diletakkan di hati. Tidak ada orang mengatakan, “Otak saya merasa sedih”, atau “Otak saya sangat gembira”. Ungkapan lain seperti “Hatinya tengah berbunga-bunga”, yang menandakan adanya kegembiraan atau perasaan cinta pada diri seseorang. Tidak diungkapkan dengan “Otaknya tengah berbunga-bunga”
Dalam konstruksi budaya ini, hati bahkan terlanjur digunakan untuk menunjukkan segala sesuatu terkait dengan perasaan manusia. Misalnya orang terbiasa mengatakan, “Hatiku berdegup kencang sekali”. Pertanyaan ilmiahnya adalah, apakah hati (hepar) manusia itu berdegup ? Bukankah degupan itu berasal dari jantung ? Namun jantung menjadi lebih kencang berdegup karena adanya perasaan tertentu yang dirasakan hati, maka dengan mudah dikatakan hati yang berdegup.
Otak cenderung digunakan untuk menunjukkan hal-hal yang terkait dengan pemikiran. Maka dalam budaya masyarakat Indonesia, ungkapan yang sering kita dengar misalnya “Otakku sedang berpikir keras”. Jika ada orang yang tidak memiliki kemampuan akademis yang bagus, terbiasa dikatakan sebagai “otaknya lemah”, bahkan dalam kadar tertentu “tidak punya otak”. Untuk konteks ini, tidak lazim diungkapkan dengan “hatinya lemah”, atau “tidak punya hati”. Karena hati dianggap bukan wilayah akademis, namun wilayah perasaan yang abstrak.
Selama ini cinta dianggap bagian dari sebuah perasaan, dan oleh karena itu cenderung dinisbatkan sebagai kualitas hati. Maka dalam bahasa Indonesia, jatuh cinta juga biasa disebut juga sebagai jatuh hati, bukan jatuh otak. Demikian pula benci, dia adalah sebuah perasaan di sisi yang lain, maka cenderung diletakkan pada hati. “Membenci sepenuh hati”, atau “mencintai sepenuh hati” merupakan istilah yang lazim untuk menyatakan benci dan cinta yang amat sangat. Tidak disebut sebagai “membenci sepenuh otak”, atau “mencintai sepenuh otak”.
Antara konstruksi budaya yang telah berkembang di masyarakat dengan penelitian ilmiah, memang tidak selalu harus bertemu. Menurut seorang peneliti dari Syracuse University, Profesor Stephanie Ortigue, ada 12 (duabelas) area pada otak yang bekerja pada saat seseorang jatuh cinta. Kedua belas area itu menghasilkan bahan kimia, seperti dopamine, oxytocin, adrenalin, dan vasopression, yang berujung pada euforia. Rasa cinta juga memengaruhi fungsi psikologi, metafora, dan penilaian fisik. Inilah informasi awal yang ditemukan melalui serangkaian penelitian.
Maka, pertanyaan yang muncul kemudian adalah, sesungguhnya cinta itu berasal dari hati atau otak ? Pertanyaan ini memisahkan secara mutlak antara aktivitas hati dengan aktivitas otak. Apa jawaban Ortigue ? “Pertanyaan yang selalu sulit dijawab. Saya berpendapat asalnya dari otak,” kata Ortigue. “Contohnya, suatu proses di otak kita bisa menstimulasi hati. Beberapa perasaan dalam hati kita sebetulnya merupakan gejala atas proses yang terjadi di otak.”
Asal perasaan cinta adalah dari otak, kemudian mempengaruhi suasana hati, demikian kurang lebih pendapat Ortigue. Hasil penelitian yang lain mendapati peningkatan jumlah darah dalam faktor penumbuh untuk syaraf, yang memegang peranan penting dalam cara orang bersosialisasi. Hal ini menghadirkan fenomena yang disebut dengan “cinta pada pandangan pertama”, sebagaimana dikonfirmasi oleh temuan Ortigue yang menyebutkan bahwa cinta bisa hadir dalam waktu seperlima detik.
Studi Ortigue juga mendapati ada bagian otak yang berbeda untuk tipe cinta yang berbeda. Cinta tanpa syarat, contohnya cinta seorang ibu pada anaknya, dipicu oleh aktivitas otak di bagian umum dan pada tempat yang berbeda-beda, termasuk otak tengah. Cinta yang bergairah antara kekasih melibatkan area kognitif, bagian yang mengharapkan imbalan, dan penilaian fisik. Ternyata, cinta bisa dipelajari dengan data-data ilmiah.
Menikmati Kehadiran Cinta
Terlepas dari apapun hasil penelitian dan studi mengenai perasaan cinta, sesungguhnya yang lebih penting adalah merasakan dan menikmati kehadiran cinta dalam diri kita. Dimanapun letak tumbuh berkembangnya cinta, biarlah terus menjadi bahan penelitian, kajian dan studi ilmiah orang-orang cerdik pandai itu. Kita bersyukur bahwa manusia terus menerus melakukan studi mendalam yang tidak pernah selesai, mengamati gejala-gejala keagungan Tuhan dalam jiwa manusia dan alam semesta.
Sembari para ilmuwan mengkaji dan mengembangkan studi mengenai cinta, mari kita nikmati kehadiran cinta dalam diri kita. Betapa cinta telah membuat hidup kita menjadi indah, membuat kegiatan kita penuh semangat dan gairah. Cinta suami kepada isteri, cinta isteri kepada suami, membuat mereka saling setia, saling menjaga, saling memberi, saling menerima, saling memaafkan, saling menguatkan dalam kebaikan, saling memahami, saling membantu, saling menasihati, saling mencemburui dalam batas wajar, saling menghargai, saling memaklumi dan saling menghormati.
Cinta manusia kepada sesama manusia, membuat mereka saling memberi, saling berbagi, saling toleransi, saling menghormati, saling menasihati, saling memaafkan, saling memahami dan saling berlaku bijak dalam interaksi. Cinta manusia kepada alam semesta membuat mereka menjaga kelestarian alam, memelihara alam dari kerusakan, tidak membiarkan tindakan yang merusak lingkungan. Alangkah indah hidup dalam cinta.
Kalaupun gagal mendefinisikan makna kata cinta, yang lebih penting adalah menikmati kehadiran cinta. Kalaupun cinta ada di hati kita, biarkan ia berkembang di hati. Kalaupun cinta ada di dada, biarkan ia tumbuh di dada. Kalaupun cinta ada di otak kita, biarkan bersemi di otak. Kita nikmati saja kehadiran cinta dalam hidup kita. Dimanapun ia berada.
Sumber : http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1642

Wakil Walikota Bogor Achmad Ru'yat Dari PKS Dinyatakan Bebas Dan Tidak Bersalah

Written By Torik on Jumat, 09 September 2011 | 10.16

pkspanmas.com | Wakil Walikota Bogor nonaktif Achmad Ruyat, ahirnya divonis bebas murni oleh hakim Pengadilan Tipikor Bandung Joko Siswanto, pada Kamis (8/9/2011).

Dalam vonis bebas tersebut, Achmad Ruyat tidak terbukti melakukan korupsi seperti yang dituduhkannya. Hakim beranggapan tuduan primer dan subsiser tidak terbukti.

Menurut Pengcara Achmad Ruyat, Soleh Amim, hakim memiliki independensi, tidak bisa diintervensi, dan sangat jeli melihat fakta-fakta persidangan.

Selain itu, baik saksi ahli maupun saksi yang didatangkan jaksa semuanya menyakatan dakwaan jaksa tidak terbukti dan Perda Nomor 1 Tahun 2002 itu adalah produk hukum yang tidak pernah judicial review dan sudah melalui evaluasi gubernur yang artinya tidak ada pelanggaran apapun.

Soleh juga bersyukur atas vonis bebas murni tersebut. "Apa yang dilakukan hakim sudah tepat dan klien kami memang tidak melakukan korupsi seperti apa yang dituduhkannya," ujarnya.
"Saya siap menjabat kembali dan mengikuti aturan main dan siap melaksanakan tuga mengabdi kepada rakyat," ujar Achmad Ruyat.

Sidang tersebut dihadiri istri, anak-anak, dan keluarga Achmad Ruyat. Setelah vonis, Achmad Ruyat langsung sujud syukur di hadapan hakim.



----

Wakil Walikota Bogor nonaktif Ahmad Ru'yat divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Bandung, Kamis (9/8/2011). Ahmad dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah atas perkara dugaan kasus korupsi penerimaan tunjangan anggota DPRD. Padahal sebelumnya JPU menuntut terdakwa dengan 4 tahun penjara dengan denda Rp 200 juta.

"Menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Membebaskan terdakwa dari semua dakwaan JPU. Karena itu terdakwa harus dipulihkan hak-haknya seperti sebelum perkara ini," ujar Ketua Majelis Hakim Joko Siswanto dalam sidang pembacaan putusan di ruang sidang VI, Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LRE Martadinata, Kamis (9/9/2011).

Majelis hakim membebaskan baik dakwaan primer maupun sekunder. Majelis hakim menilai, tunjangan yang diterima oleh terdakwa sudah sesuai dengan aturan dan merupakan bagian dari haknya sebagai anggota DPRD.

"Unsur memperkaya diri sendiri dalam dalam dakwaan subsider tidak terbukti," lanjutnya.

Ahmad yang menjadi anggota DPRD Kota Bogor periode 1999-2004 itu menerima dana penunjang kegiatan DPRD Kota Bogor sebesar Rp 122 juta pada APBD 2002.

Para hakim menyebutkan beberapa pertimbangan membebaskan terdakwa. Joko menjelaskan, seperti anggota Dewan Kota Bogor lainnya, saat itu Ahmad menerima duit dana penunjang kegiatan sekitar Rp 122,4 juta per anggota Dewan dari pos anggaran Dewan pada APBD Kota Bogor tahun 2002.

Duit Rp 122,4 juta yang dicairkan secara bertahap itu antara lain untuk biaya khusus anggota Dewan, tunjangan perumahan, biaya general check up, tunjangan hari raya, dan operasional kegiatan pemantauan lapangan. Juga dana taktis pimpinan Dewan, uang reses, dana mobilisasi, uang kunjungan kerja, dan dana asuransi. Namun majelis hakim tak sependapat dengan jaksa penuntut. Menurut Joko, penggunaan dana penunjang kegiatan oleh terdakwa tidak memperkaya diri secara melawan hukum dan merugikan negara seperti disebut dalam dakwaan primer jaksa berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Ahmad, menurut Hakim Joko, juga tak terbukti memenuhi unsur menguntungkan diri sendiri, sehingga merugikan negara sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Antikorupsi seperti dalam dakwaan subsider jaksa. Sebaliknya majelis hakim menyatakan dana yang diterima dan digunakan Ahmad merupakan bagian dari hak terdakwa sebagai anggota Dewan. Alasannya, dokumen seluruh anggaran Dewan dalam APBD Kota Bogor 2002 sudah diverifikasi oleh Gubernur Jawa Barat.

Hasilnya, Gubernur menyatakan APBD Bogor 2002 ataupun perubahannya tidak bertentangan dengan ketentuan umum ataupun peraturan lebih tinggi. "Hasil verifikasi tak ada catatan dari Gubernur agar APBD Kota Bogor 2002 diperbaiki. Dan akhirnya ditetapkan menjadi Perda Nomor 1 Tahun 2002 tentang APBD Kota Bogor Tahun 2002. Pada 10 Januari 2002 ditetapkan penjabaran APBD Kota Bogor Tahun 2002," kata Joko.

Selain itu, ia menambahkan, semua pengeluaran dalam pelaksanakan APBD 2002 sudah dipertanggungjawabkan secara tahunan. Hal itu dilakukan melalui Laporan Pertanggungjawaban Wali Kota Bogor dan penetapan Perda Perhitungan APBD Kota Bogor Tahun 2002. "Dengan demikian tidak ada kewajiban anggota Dewan memberikan bukti pengeluaran dana, selain bukti penandatanganan serah terima sebagai user dana penunjang kegiatan dengan Sekretaris DPRD. Sedangkan pertanggungjawaban penggunaannya (dana penunjang kegiatan) oleh Sekretriat DPRD," tutur Joko.

*)dari blog pks piyungan

Ketika Anggota DPR Harus Naik Ojek

Written By Torik on Rabu, 07 September 2011 | 11.28

pkspanmas.com | Ojek salah satu transportasi yang bisa diandalkan untuk menembus kemacetan ibukota. Armada ini ditumpangi mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid agar tidak terlambat salat Idul Fitri di Masjid Al-Azhar.

Kehadiran Hidayat disambut hangat imam salat Id, Haji Ahmad Khotib, di lapangan Masjid Al-Azhar, Blok M, Jakarta Selatan, Senin (30/8/2011).

"Selamat datang kepada Khatib salat Id Hidayat Nur Wahid yang baru sampai di Lapangan Al-Azhar," kata Ahmad Khotib yang hendak memimpin salat Id sekitar pukul 07.10 WIB ini.

Hidayat yang mengenakan jas warna coklat, sarung dan peci warna hitam itu berlari-lari kecil dari arah Jalan Sisingamangaraja. Arus lalu lintas menuju kawasan Masjid Agung Al-Azhar memang cukup macet panjang sejak pagi.

"Tadi, saya ke sini sampai naik ojek. Saya naik ojek karena jalanan luar biasa macet untuk ke Al-Azhar ini, hampir telat. Untungnya saya bisa sampai ke sini dalam keadaan sehat, Alhamdulillah," cerita Hidayat usai salat Id.

Hidayat akan bertolak ke Yogyakarta. "Nanti sore, saya sudah ada di Yogyakarta dan akan berlebaran dengan Ibu di Prambanan. Saya selama 3 hari di Yogyakarta," kata politikus PKS ini.[detik/ismed]

Ramadhan Syahrul Jihad Wadda’wah

Written By Torik on Selasa, 02 Agustus 2011 | 13.28

pkspanmas.com |Ramadhan telah datang, semangat keIslaman mulai terlihat disana sini, masjid yang biasanya sepi kini terlihat ramai dan sesak dengan jamaah yang akan melaksanakan sholat Taraweh ,takmir masjidpun sibuk mengurusi jamaah agar semua dapat terlayani dengan baik. setelah usai pelaksanaan sholat taraweh yang diiringi Kultum , sebagian jamaah dan pengurus masjid mengisi waktu dimalam itu dengan tadarrus Al-qur,an ,keesokan harinya ba’da sahur dan sholat subuh diadakan acara kuliah subuh...Alhamdulillah begitulah biasanya fenomena awal ramadhan.apakah hingga Akhir ? tergantung.!

Bagi para Aktifis dakwah (kader dakwah) fenomena ini adalah peluang yang cukup signifikan untuk berdakwah, awal ramadhan adalah saat banyak orang membuka hati untuk menerima nasihat dan kebenaran, meskipun akhirnya banyak diantara mereka yang tidak Istiqomah dikarenakan niat yang tidak kuat, namun inilah gambaran peluang agar setiap da’i memanfaat kan momentum ramadhan sebagai Syahrul jihadi wa da’wati (Bulan jihad dan dakwah) begitu besar pahala yang Alloh janjikan kepada mereka yang berjihad dalam keadaan shaum.

Rasulullah bersabda:“ Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari dalam jihad fi sabîlillâh melainkan pada hari itu, Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun" ( H.R. Bukhori, Muslim dan Tirmidzi )
Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:
"Siapa saja yang shaum satu hari di dalam jihad fisabilillah niscaya Allah menjauhkan antara diadan neraka dengan satu parit yang luasnya seluas langit dan bumi." (HR. ath-Thabran)

Proyek Jihad Ramadhan Dimasa Rasululloh

1. Kemenangan perangan Badar

Pada hari ke tujuh belas di bulan Ramadhan, tahun kedua Hijrah, Allah SWT menganugerahkan kemenangan yang cemerlang kepada kaum Muslim di hari itu. Sebuahkemenangan yang tidak mungkin dilupakan di sepanjang sejarah umat manusia. Allah SWT telah menerangkan peristiwa ini di dalam firmanNya:“

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Sesunnguhnya Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar , padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah . Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.[Ali Imran : 123]

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلاَثَةِ آلاَفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُنزَلِينَ
(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mu'min: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?"[Ali Imran : 124]
Perang Badar merupakan peperangan besar pertama bagi ummat Islam. Rasulullah Saw meninggalkan Madinah bersama 313 sahabat, dua ekor kuda dan tujuh puluh ekor unta menuju ke Badar. Pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijrah mereka berhasil mengalahkan tentara musyrik yang berjumlah 1.000orang, yang dilengkapi dengan 100 ekor kuda dan 700 ekor unta yang datang dari Makkah di bawahpimpinan Abu Jahl sendiri.Dalam peperangan Badar, Allah SWT telah mengutus para malaikat yang bertugas membantu Rasulullah Saw. dulu, konon bila diberi pilihan untuk mengerjakan.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".[Al Anfal : 9]

Ketika menerima wahyu ini, Rasulullah sedang beristirahat sejenak. Namun, ketika beliau menerima wahyu tersebut, beliau mengangkat kepalanya disertai kegembiraan di wajahnya. Lantas beliau bersabda, “ Wahai Abu Bakar, sampaikanlah berita gembira, sesungguhnya kemenangan dari Allahsangatlah dekat. Demi Allah! aku melihat malaikat Jibril dan tentaranya telah datang seperti pasir yang bertaburan "


2. Penaklukkan kota Mekkah (Fathuh Mekkah)

Peristiwa “Fathul Makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan yaitu pada hari jum’at, tanggal 20 atau 21 Ramadhan tahun 8 Hijriyah (629 M, sekitar 10.000 kaum muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama Islam. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan kalimat akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.

Pada peristiwa tersebut Rosulullah menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah yang berjumlah 360 buah. Setelah itu Rosulullah berkata, “Hai orang-orang Quraisy, apa kiranya yang akan saya lakukan terhadap kalian di hari ini?” Mereka menjawab, “Sesuatu yang baik. Sebab engkau adalah saudara yang baik dan akan memperlakukan saudara dengan baik pula.” Nabi berkata, “Pergilah, kalian bebas”. Ini merupakan amnesti terbesar dan kasih sayang yang sangat agung. Jatuhnya Makkah membuka jalan untuk penakhlukkan seluruh jazirah Arab.
إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,"[An-Nasr : 1]
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً
"dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,"[An-Nasr : 2]

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.[An-Nasr : 3]
Bagi para kader dakwah yang ingin mengoptimalkan perannya sebagai pelayan ummat, dapat menyusun program da’wah yang lebih konfrehensip dan terukur untuk mensukseskan agar romadhan bisa menjadi unsur perubahan diri dan masyarakat.

Program Da’wah Romadhon

1. Tarhib Ramadhan amat dibutuhkan oleh masyarakat dalam rangka menanamkan kesadaran mencintai romadhon dan meng Ilmui ibadah ramadhan

2. Ramadhan ma’al Qur’an (Romadhon Bersama Al-Qur’an)

Banyak diantara saudara –saudara kita yang belum dapat membaca Al-qur’an akan sangat terbantu dengan kegiatan ini .

3. Ifthor jama’i (Buka puasa Bersama) untuk melekatkan hati para da’i dengan masyarakat.

4. Pesantren Kilat (Dauroh) dalam rangka Membangun kesadaran berIslam masyarakat dengan pemberian pengetahuan pemahaman keislaman .

5. I’tikaf fi asyrul Awakhir ( i’tikaf 10 hari terakhir) adalah salah satu sunnah Rasululloh yang saat ini mulai kembali dihidupkan Dan masih banyak lagi contoh program dakwah yang dapat dibuat agar Ramadhan dapat menjadi ajang dakwah dan perubahan bagi masyarakat....

6. Semakin banyak program dakwah yang lain sebagai Proyek para dai untuk berkiprah dan beramal da’awi dibulan Romadhon.



Wallohu a’lam bishowab
Ustadz Muhammad Ridwan

Kepompong Ramadhan

Written By Torik on Senin, 01 Agustus 2011 | 14.05

pkspanmas.com | Pada sebuah pohon yang rindang, terdapatlah sekelompok ulat bulu yang sedang asyik melahap dedaunan. Lalu tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya se-ekor kupu-kupu yang begitu cantik dan menawan. Ulat-ulat itu terpesona, mengagumi keindahan kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu begitu menarik di pandangan mereka dan menjadi pusat perhatian dari ulat-ulat yang terdecak kagum.
“hi, siapa engkau?? Engkau begitu indah dan menawan, tidak seperti kami menjijikan dan menyeramkan.” Ujar seekor ulat pada kupu-kupu
“tahukah kamu wahai sahabatku ulat..aku juga dulu seperti kalian, hanya se-ekor ulat yng menjijikan, tak ada manusia yang mau mendekati aku. Lalu dengan proses panjang aku merubah diriku menjadi seperti ini. Yah...sekarang aku adalah se ekor kupu-kupu yang dicintai semua makhluk karena keindahan ku.”
“jadi kamu dulu juga se-ekor ulat seperti kami?? Lalu bagaimana caranya agar kami bisa menjadi seperti kamu??”
“kalian harus puasa selama 30 hari, tidak makan dan tidak minum, tahan dengan segala ujian yang sudah di tentukan-Nya, kalau kalian bisa melakukan itu, insyallah kalian pun akan menjadi seperti aku yang dicintai manusia.”
Kupu-kupu itu lalu pergi dan hinggap pada pohon yang lain.
Beberapa ulat itu kemudian mengikuti saran dari kupu2 untuk berpuasa selama 30 hari. Tapi ada juga sedikit dari ulat itu yang tidak mau mengikuti apa yang disarankan kupu2. Menurut mereka terlalu berat jika harus berhenti makan dan minum selama 30 hari. Mereka pasrah dengan keadaanya sebagai ulat yang menjijikan.
Dalam perjalannya menjadi se ekor kupu-kupu, ada beberapa ulat yang tergoda rayuan temannya yang sedang asyik menikmati makan daun yang begitu nikmat.
“sudahlah, kalian jangan menyiksa diri kalian, makanan ini begitu nikmat”.
Beberapa ulat tergoda, dan menghentikan meditasi mereka. Namun sebagian masih tetap dalam pendiriannya, tetap berpuasa, karena mereka yakin akhir dari perjalanan ini adalah keindahan yang begitu menakjubkan. Mereka tetap konsisten, tetap sabar dan terus berjuang dalam sangkar yang bernama kepompong..
Sampai harinya tiba..tepat dihari ke 30 mereka keluar dari sangkarnya itu, lalu mengepakan sayap cantik, dengan corak warna warni yang begitu indah dan mempesona, mereka terbang...terbang bergembira..mereka tersenyum puas memandangi tubuhnya telah berubah total dari ulat yang menjijikan menjadi kupu2 yang indah nan jelita..mereka bersyukur saat terbang diatas danau bening yang memantulkan wujud mereka yang baru..mereka menjadi kupu-kupu yang jelita dan menawan..
Sementara teman2nya hanya menatap terpesona dan penuh penyesalan...
Kawan!!
Untuk menjadi pribadi yang dicintai oleh semua orang, menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya, menjadi seorang yang sholeh, menjadi pribadi yang selalu berkata benar dari yang sebelumnya pembohong, menjadi pembela agama Allah dari sebelumnya memusuhi agama Allah, tidak bisa dilakukan dengan instan lantas jadi seperti yang diinginkan! Semua itu butuh proses panjang dan harus menghadapi ujian demi ujian.
Ramadhan adalah satu sarana yang selalu Allah berikan kepada kita setiap tahunnya. Jika kita mampu memanfaatkan dengan baik, bukan tidak mungkin kita akan menjadi kupu-kupu yang indah dan menawan. Di bulan ini kita dilatih dengan berbagai pelatihan yang sangat mendukung agar menjadi pribadi yang menawan, menjadi pribadi yang beruntung, bertaqwa, serta menjadi pribadi yang bersih baik dzahir maupun bathin. Kita berlatih untuk bersabar menahan nafsu dan amarah, kita dilatih untuk peduli dengan sesama, kita dilatih untuk menahan pandangan, pendengaran, kata dalam bicara, tindak dalam perbuatan, bisikan dalam hati, serta membersihkan keruh dalam fikiran. Kita dilatih untuk konsisten dalam amal, bersabar dalam sholat-sholat yang banyak dan panjang disetiap malam, kita pun dilatih untuk mencintai al-Qurán, juga yang tak kalah penting kita dilatih untuk mau memaafkan semua kesalahan semua orang.
Lulus dari proses metamorfosis ini kita akan menjadi pribadi yang baru. Kita seperti terlahir kembali laksana bayi yang baru lahir. Yang kehadirannya, ditunggu semua orang, yang kelahirannya disambut senyum bahagia semua orang, di peluk, dicium, di gendong, disayang dan di cinta semua orang. Laksana ulat yang berjuang agar menjadi lebih baik, ketika ia sukses menjalani semua ujian yang telah ditetapkan, ulat itu terlahir kembali menjadi kupu-kupu yang indah dan menawan.
Teringat kembali sebuah nasyid Ramadhan dari Izzatul Islam :
Bulan perjuangan tingkatkan iman
Pupuk pengorbanan suci
Bina kesungguhan bina keihklasan
Berbekal taqwa untuk...kehidupan...Ramadhan

Jadikan bulan suci cermin hati
Benahi hidup tuk Ilahi
Lepas belenggu dunia tuju ukhrowi
Sibak cakrawala imani
Luas membentang tak terhalang

Bulang suci cermin kan hati cerlang
Arungi hidup masa datang
Rahmat ampunan cahaya abadi
Raih kebebasan hakiki
Dari pedih ajab berkekalan

Kesabaran diraih penuh pengorbanan
Nafsu tunduk patuh terkendali
Keridhoan bukanlah suatu kemudahan
Capai gelaran kehormatan
Ambang Ar-royan di hadapan

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan
Tinggikan hari dengan kesibukan Robbani
Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa
Tiada hasil kecuali lapar dahaga

Ingatkan diri sang junjungan di bulan rahmah
Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah
Cerah hari bercahayakan
Indah menyinar ketaqwaan

Telah datang bulan keagungan
Bulan rahmah penuh keberkahan
Berlombalah merengkuh pahala
Raih malam sribu bulan..lailatul qodar..

Perbanyak yang di ridhoi Rabb mu
Syahadat istighfar selalu
Mintalah ridho-Nya Jannah tujuan mu
Mohon perlindungan dari neraka-Nya...
Ramadhan...Ramadhan...Ramadhan...

Semoga setiap jiwa kita kembali dengan sebenarnya fitrah. Menjadi pribadi yang semakin baik setelah menempuh ujian di kepompong Ramadhan...insya Allah..
Abu Rafah
(islamedia)

Dengan Puasa Kita Berkarya, PKS Bekerja Untuk Indonesia

Written By Torik on Sabtu, 30 Juli 2011 | 13.04

pkspanmas.com | Oleh: Heru Hidayat*
(Sekretaris Umum DPW PKS Kalimantan Tengah)

Saudaraku, Alhamdulillah kita masih diberikan kemudahan dan nikmat dari Allah SWT, tentu saja ini sangat berharga bagi kita semua terutama dalam rangka persiapan menyambut ibadah di bulan ramadhan.

Saudaraku, bagi kita hal itu merupakan modal penting sebagai sarana menjaga kesehatan dan upaya meningkatkan keimanan kita sehingga dapat menjalankan setiap ibadah dengan penuh kebahagiaan dan keikhlasan.

Barangkali itulah harapan kita di saat ini untuk dapat menjalankan beragam ibadah di bulan yang dirahmati Allah SWT tersebut dengan baik bersama keluarga, dan masyarakat sekitar kita. Memang bulan ramadhan ini berbeda namun spesial maknanya karena didalamnya terdapat agenda puasa, shalat tarawih, i’tikaf di sepuluh hari terakhir, dan lailatul qadar serta balasan dari Allah SWT yang berlipat ganda, maka bulan ramadhan yang penuh berkah ini menjadi luar biasa bagi kita semua.

Belajar dari Sejarah

Saudaraku, sejenak kita melihat perjalanan sejarah bangsa kita, bangsa Indonesia yang senantiasa kita cintai bersama ini. Dimana telah melalui masa sulit yaitu masa penjajahan, para pejuang pada masa kemerdekaan itu telah berjuang membebaskan bangsa ini dari upaya penjajahan dan penindasan. Para pejuang dengan semangat yang begitu gigih dan tidak mengenal putus asa bahkan harus mengorbankan waktu, pikiran dan juga harta serta nyawa mereka dalam rangka memperoleh hak kemerdekaan bangsa Indonesia ini, tidakkah kita ingat dan membayangkan dimana masa-masa sulit saat itu. Sehingga semangat perjuangan dan tekad bersama para pejuang saat itu menghasilkan sebuah komitmen besar yang kemudian menghasilkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal tersebut bertepatan dengan bulan ramadhan, bulan disaat umat muslim menjalankan ibadah puasa namun telah menorehkan karya yang luar biasa.

Sejarah itu saudaraku, membuat kita semakin sadar dan termotivasi, untuk terus berbuat bagi bangsa ini sebagaimana para pejuang sebelumnya. Bagi para pejuang berbagai tantangan menghadang itu dihadapi dengan tekad, semangat dan kedekatan mereka dalam menjalankan perintah Allah SWT sehingga menjadi kekuatan yang dahsyat.
Saudaraku, sudah seharusnya kita mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT dan kita perlu banyak berterima kasih dan penghargaan kepada para pejuang bangsa ini, yang telah membebaskan dari belenggu penjajah dan yang memberikan inspirasi untuk terus berjuang dalam kebaikan dan kebenaran sehingga kita perlu banyak belajar dari perjalanan sejarah bangsa ini.

Kita tahu dan terus belajar

Saudaraku, suatu ketika saya pernah bertemu dengan seorang penulis buku “Guru Goblok ketemu Murid Goblok” namanya Iman Supriyono, dia menyampaikan beberapa hal kepada saya terkait motivasinya menulis buku dan keinginannya untuk terus belajar dari siapapun dan dimanapun, mengapa diberi kata-kata “goblok”, menurutnya adalah ingin menumbuhkan semangat baru untuk terus belajar, untuk memperbaiki yang masih belum baik dan menjadikan lebih baik dari yang sudah baik, tidak merasa sombong, baik posisinya sebagai murid maupun sebagai guru begitulah singkatnya.

Saudaraku, diantara kita ada yang menemui bulan ramadhan sudah beberapa beberapa kali karena segi usia memang sudah tua, namun bukan berarti kita telah mengetahui semua tentang ramadhan, yang masih dibutuhkan oleh kita untuk terus berupaya belajar sehingga ibadah yang kita lakukan di bulan ramadhan menjadi baik dan lebih baik.

Saudaraku, saat ramadhan tiba hampir setiap hari berbagai kajian dan ulasan terkait ramadhan ada di beberapa masjid maupun media, hal ini merupakan kesempatan buat kita untuk menambah wawasan dan menjadikan aktivitas ramadhan lebih baik. Sebagaimana kajian yang pernah dilakukan di salah satu masjid dengan tema puasa dan kesehatan pada tahun 2010 yang lalu bersama dr. Wildan, beliau menyampaikan bahwa puasa sangat bermanfaat baik untuk kesehatan jasmani maupun juga kesehatan rohani kita, karena merupakan sunatullah yang telah diatur oleh Allah SWT, banyak lagi informasi ilmiah yang dapat menambah semangat untuk puasa agar lebih baik sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan kita.

Saudaraku, salah satu kelebihan di bulan ramadhan ini adanya balasan yang berlipat ganda pada setiap kebaikan yang kita lakukan, sehingga salah satu agenda kebaikan itu adalah belajar dan terus belajar untuk mendapatkan bekal dan wawasan yang luas untuk kemanfaatan umat.

Dalam Al Quran surat Al-Mujaadilah : 11, Allah SWT berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi ilmu, dan mendorong pemeluknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya serta mengamalkannya. Namun, janganlah sampai kita menjadi sombong karena ilmu yang kita miliki.

Insya Allah kita bisa

Saudaraku, ingatkah kita ketika usia kita masih balita, ketika itu kita terus berupaya untuk bisa berdiri, walaupun beberapa kali kita pernah jatuh, namun terus berupaya untuk tegar dan berusaha sehingga akhirnya kita bisa berdiri. Hal itu karena adanya kesabaran dan ketekunan yang akhirnya membawa manfaat bagi kita hingga saat ini dapat berjalan, bahkan mampu untuk berlari.

Saudaraku, ketika usia menginjak sekolah dasar, orang tua kita selalu berusaha membimbing kita untuk turut serta berpuasa di bulan ramadhan, walaupun dilakukan setengah hari atau adakalanya secara sembunyi-sembunyi kita makan dan minum tanpa diketahui oleh orang tua kita, namun waktu terus berlalu dan pengetahuan, pemahaman, serta usia kita terus bertambah sehingga membuat cara kita berpuasa tentu saja harus sudah berubah karena kesadaran dan niat ibadah kita karena Allah SWT.

Mungkin itulah sesungguhnya setiap kita memiliki potensi untuk bisa, dimulai dari belajar, berlatih, dan terus berlatih dan akhirnya kita bisa.

Menghasilkan karya

Saudaraku, saat puasa di bulan ramadhan banyak kesempatan yang dapat kita optimalkan sebagaimana niat dan upaya kita terus memperbaiki program dan agenda di bulan penuh berkah ini, setidaknya dari niat yang ikhlas apalagi adanya program dan agenda maka akan kita dapatkan beragam karya yang bisa ditorehkan selama menjalankan ibadah di bulan ramadhan, misalkan agenda tilawah Al-Qur’an, agenda berbagi, agenda kajian intensif, agenda menulis, dan banyak lagi agenda maupun program positif bagi kita. Saudaraku, mungkin saja untuk menyiapkan secara sendiri belum bisa termotivasi, sehingga diperlukan rekan kita untuk menumbuhkan motivasi dan semangat tersebut. Itulah pentingnya kebersamaan dengan rekan kita yang memiliki misi yang sama untuk mewujudkan satu tujuan.

Saudaraku, kalaupun agenda dan program itu masih terasa berat, maka kita mulai dari yang ringan dan mudah, sehingga hal tersebut diharapkan menjadi terbiasa dan terus berupaya meningkatkannya. Insya Allah saudaraku, anda semua memiliki potensi menghasilkan karya yang spesial.

Bermanfaat dan bermakna

Saudaraku, pernahkah kita melihat pertunjukan akrobat, ketika seseorang harus melintasi tali berdiameter 5 cm sepanjang 30 meter dan tinggi 10 meter ternyata dengan mudahnya sang akrobat berjalan dan bahkan sukses melewatinya, tidak hanya itu saja sang akrobat kemudian menggunakan sepeda satu roda namun tantangan kali ini dia menggendong salah satu rekannya kemudian melewati tali yang terbentang itu hingga berhasil dengan baik, semua penonton saat itu bertepuk tangan karena kagum menyaksikan pertunjukan tersebut termasuk anda barangkali. Andaikan salah satu rekan yang tadi digendong sang akrobat tersebut sekarang diganti dengan anda, pertanyaannya adalah apakah anda bersedia turut serta dengan sang akrobat? Jika kita atau anda bersedia maka kita tidak sekedar percaya akan apa yang kita lihat namun juga kita semakin yakin bahwa hal tersebut dapat kita dilakukan.

Begitulah saudaraku, jika selama ini banyak orang-orang yang menghasilkan kebaikan ketika menjalankan ibadah ramadhan maka saatnya kita tidak saja hanya menyaksikan dan melihat disekitar kita ada orang yang bisa dan berhasil dan menjalankan puasa, namun kita bisa turut serta karena insya Allah kita juga bisa melakukanya.

Saudaraku, tidak sedikit dari karya yang dihasilkan secara pribadi memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, Sebagaimana para ulama dan pendiri bangsa ini dalam beraktivitas hidupnya banyak memberikan karya yang bermanfaat namun juga sangat bermakna bagi kehidupan di Indonesia. Semoga akan menjadi kenyataan bagi kita semua jika kita memulai ibadah ramadhan ini dengan niat yang baik, dengan program yang tertata, sehingga akan menghasilkan sebuah karya yang dapat bermanfaat dan bermakna terlebih buat diri kita, dan menjadi luar biasa ketika bermanfaat bagi masyarakat.

Wallahu a’lam bisshowab…semoga bermanfaat

*Penulis adalah Sekretaris Umum DPW PKS Kalimantan Tengah
hr_hida@yahoo.com/081349095335

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban, Ahlan wa Sahlan, Welcome, Selamat Datang....Ramadhan.

Itulah kata-kata yang sering kita dengar dan kita lihat di berbagai media dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ya...sebentar lagi, tinggal hitungan hari, Insya Allah kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan. Suatu bulan yang beda dari 11 bulan lainnya, karena satu bulan penuh akan di isi dengan ibadah puasa atau shaum.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah:183)

Beruntunglah orang-orang yang beriman, karena mendapat undangan khusus dari Allah untuk melaksanakan ibadah puasa. Jadi tidak semua orang, termasuk orang Islam sendiri, melakukan ibadah puasa ramadhan. Dan menjadi istimewa lagi karena puasa merupakan urusan kita dengan Allah, tidak seperti ibadah lainnya. Seperti keterangan dalam hadits qudsi berikut:

“Semua amal perbuatan Bani adam menyangkut dirinya pribadi, kecuali shaum (puasa). Sesungguhnya shaum itu untuk-Ku, dan karena itu Akulah yang langsung membalasnya…dan bagi orang shaum tesedia dua kegembiraan, gembira ketika berbuka shaum karena bukanya dan gembira ketika kelak menemui Allah karena menerima pahala shaumnya”

Bulan Ramadhan bisa dikatakan bulan obral pahala. Pada bulan ini Allah melipatkan gandakan pahala bagi orang-orang yang melakukan kebajikan. Maka tidak heran jika pada bulan ini kita dapati orang-orang tilawah/membaca Al quran dimana-mana, banyak melakukan sedekah dan kebajikan lainnya.

Bulan ini juga bisa dikatakan sebagai bulan perubahan. Semuanya berlomba-lomba menjadi lebih Islami. Bisa kita lihat tayangan televisi dan para pengisinya menampilkan ciri yang islami. Orang-orang mulai tidak ragu untuk menggunakan jilbab atau kerudung bagi yang perempuan dan baju koko ditambah peci bagi yang laki-laki. Al-quran di bawa kemana-mana. Masjid-masjid menjadi lebih ramai dari biasanya. Majelis-majelis taklim dan kajian agama dimana-mana.

Bulan Ramadhan juga bisa disebut sebagai bulan ampunan, karena pada bulan ini Allah membuka selebar-lebarnya pintu taubat bagi hambanya yang memohon ampunan.

Itulah Ramadhan, bulan yang merupakan hadiah dari Allah, yang kedatangannya selalu dinanti banyak orang. Bulan yang kehadirannya sangat dirindukan semua manusia. Tak salah jika sebagian orang menginginkan semua bulan adalah bulan Ramadhan.

Kita hanya bisa berusaha dan berharap semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang terbaik sepanjang hidup yang telah kita lalui. Ramadhan yang tidak akan berlalu begitu saja dan pengaruhnya akan membekas dalam diri serta terasa sampai Ramadhan berikutnya.
amin......

Bagaimana Mereka Mendidik Kami (Tulisan Seorang Anak Kader Dakwah)

Written By Torik on Minggu, 10 Juli 2011 | 12.29

pkspanmas.com | Saya bingung ingin memulai kisah ini dari mana ketika seseorang yang saya hormati meminta saya menuliskan tentang bagaimana orangtua saya mendidik saya—atau lebihnya tepatnya “kami”, saya dan adik-adik saya. Kedua orangtua saya, adalah orang yang betul-betul sederhana. Dan karena saking sederhananya itulah saya merasa bingung apa yang mesti saya tulis di sini.

Mereka bukan siapa-siapa di jagat raya ini. Mereka orang biasa, yang bila berada di antara kerumunan orang tak akan menjadi pusat perhatian. Tapi berbeda jika mereka sudah berada di rumah. Mereka seperti matahari, yang menjadi pusat perputaran planet-planet dalam gugusan bima sakti. Dan kamilah planet-planet itu.

***

Sebelum saya dipindahkan ke SDIT pada kelas 2 SD, saya bersekolah di SD Islam As Salafy. Namanya saja ada embel-embel “Islam”. Tapi nilai-nilai yang ditanamkan, layaknya di sekolah biasa. Nilai-nilai kebaikan standar. Malah, aneh betul kayaknya tiap orangtua murid dan guru memperhatikan saya lantaran saya memakai jilbab dan seragam sekolah yang lebih panjang dari yang lain. Seolah-olah ada yang salah dengan saya.

Ya, saya memang berbeda di antara sekian ratus siswa di sekolah itu. Mata murid-murid melirik, bertanya-tanya; kenapa pakai jilbab ke sekolah? Bukankah pakai jilbab kalau kita ke TPA saja? Apalagi kalau Ummi datang ke sekolah. Wah mencuri perhatian betul itu. Karena Ummi memakai gamis dan jilbab lebar lengkap pula pakai kaus kaki walaupun alas kaki yang digunakan cuma sandal jepit swallow. Kalau Ummi menambah pakaiannya dengan cadar, mungkin mata-mata itu bukan menatap atau melirik lagi. Tapi melotot. Sebaliknya, guru yang pakai jilbab dengan rok sepan sedengkul tidak dianggap aneh.

Mungkin itu perasaan ‘berbeda’ yang saya rasakan pertama kali dengan amat jelas. Pada kenyataannya memang keluarga kami berbeda dengan para tetangga. Tapi jangan salah, berbeda bukan berarti lantas kami menutup diri. Walau Ummi adalah orang yang tidak banyak omong, tapi Ummi ramah pada tetangga. Para tetangga menganggap keluarga kami mungkin keluarga santri atau setidaknya paham agama. Sehingga para orangtua mengirim anak-anaknya ke rumah kami untuk belajar mengaji.

Saya lupa bagaimana dulu orangtua saya menjelaskan pada saya dan adik-adik yang perempuan tentang jilbab. Seingat saya, kelas 1 SD itu saya sudah rutin memakai jilbab kalau keluar rumah. Walaupun baju yang saya kenakan tidak menutup seluruh aurat. Saya kecil kerap memakai baju tidur sedengkul-lengan-pendek, tapi berjilbab, berlari-larian main petak jongkok dengan anak-anak sebaya. Yang saya ingat dulu, Abi seringkali berteriak meledek saya kalau kedapatan saya tidak mengenakan jilbab. Ia memanggil saya begini; “Hei, Ahmad!”

Sebagai anak perempuan kecil, saya ogah diasosiasikan sebagai lelaki.

***

Di rumah kami ada barang yang baru kami punyai ketika saya SMP, yaitu televisi. Sebelumnya, kami tak mengenal baik benda itu. Pernah punya tivi, tapi tidak lama karena tivi yang kami punya masih hitam putih, tivi tahun 60-an dengan gambar yang kruwek-kruwek. Bentuknya juga antik, udah ga jaman banget di tahun 90-an itu; kotak kayu, dengan tombol-tombol untuk pindah channelnya di sisi kanan. Kacanya pun cembung bukan main. Tivi ini juga cuma bisa menangkap dua stasiun; TVRI dan TPI. Yah, mana ada yang mau berlama-lama menonton dengan tivi butut—sementara pada saat itu sudah eranya tivi berwarna dan ber-remote control?

Entah apa memang orangtua kami asli tidak mampu membeli tivi baru atau memang mereka punya prinsip sendiri soal tivi. Tapi yang jelas, tak mudah meminta tivi baru. Jangankan itu, meminta dibelikan mainan baru atau sesuatu yang sedang ngetrend saat itu di dunia anak-anak pun, kami mesti susah-susah mengajukan ‘proposal’ (berupa rengekan yang bisa berujung pada tangisan) apa manfaat barang itu bagi kami.

Ketika lagi trend koleksi kertas surat, hampir seluruh teman sekelas saya yang perempuan punya itu. Begitu juga teman sekelas adik saya. Demam kertas surat melanda satu sekolah (saat itu saya sudah sekolah di SDIT IQRO’). Rasanya, saya saja di kelas yang tidak punya koleksi semacam itu. Saya cuma menonton bagaimana teman-teman saya mengatur kertas-kertas surat nan wangi itu, mengeluarkannya dari map, menjejerkannya di meja, menumpuknya dengan rapi, memasukkannya lagi ke map, lalu mengulang ritme yang sama setiap ada kesempatan sembari bercerita ini beli di mana atau menukar dengan siapa.

Begitu juga saat demam stiker tokoh-tokoh kartun. Saya menjadi penonton. Atau ketika demam koleksi kertas file bergambar. Saya pun tidak punya itu. Atau (lagi) ketika demam pulpen gantung bak wartawan yang tintanya wangi, saya juga tidak punya itu. Saya berbeda. Dan kala itu, perasaan berbeda bukan lagi perasaan pertama, tapi ke sekian kalinya.

Ingin juga sih punya itu semua. Yah saya kan anak kecil biasa yang suka iri melihat milik teman. Tapi meminta pada orangtua itu semua, butuh energi untuk menjelaskan; sebenarnya untuk apa barang-barang itu? Dan orangtua kami, menanyakan hal tersebut bukan untuk basa-basi. Kalau memang kami tidak bisa menjelaskan alasan kenapa kami ingin barang-barang tertentu, mereka tidak akan memberikannya. Mau sampai nangis guling-guling di tanah pun, orangtua kami tidak akan mencabut kata-katanya. Belakangan, saya tahu sebenarnya hati Ummi sakit melihat anaknya meminta sesuatu sampai menangis apalagi sampai guling-guling di lantai. Tapi memang harus ada sakit yang tertanggung untuk sebuah kebaikan.

Ummi ataupun Abi tidak menurunkan posisi tawar demi melihat kami ngamuk sampai guling-guling. Mereka tidak lantas bilang: “Ya deh, ya deh… Abi belikan nanti…” Bagi mereka, kami tidak boleh belajar ‘menangis untuk mendapatkan sesuatu’.

Ketika sudah tenang dari isak tangis dan amukan, barulah ada kata-kata yang mampu meluluhkan hati.

“Bukannya ga boleh punya kertas file. Boleh-boleh aja, tapi kan tadi Ummi nanya; buat apa? Kalo cuma untuk dikoleksi, apa nggak buang-buang uang? Padahal kamu tuh butuh barang lain yang lebih penting. Coba aja liat besok. Pasti besok temen-temen kamu udah bosen sama kertas file. Ganti lagi koleksi yang lain. Dulu juga begitu kan? Semuaaaa punya kertas surat. Tapi lama-lama temen-temen kamu bosen sama kertas surat. Terus ganti sekarang ganti kertas file. Terus dikemanain kertas suratnya? Jadi bungkus cabe? Apa disimpen aja? Apa iya kertas suratnya dipake buat kirim surat ke temen?”

“Tapi kan semua temen punya, masa aku ga punya…”

“Udah, santai aja. Ga ditangkep polisi kok kalo ga punya kertas file…”

Saya yakin, orangtua saya tidak paham teori gelombang otak yang katanya, kalau ingin mendoktrin anak itu paling baik saat otak berada dalam keadaan tenang antara sadar dan tidak. Tapi memang, orangtua saya biasanya mendiamkan dan tidak memberikan wejangan apa-apa saat kami-kami ini mengamuk. Nasehat baru keluar ketika sudah capek menangis dan guling-guling, sementara otak mengirim sinyal ke mata agar mengantuk.

Rasanya, orangtua saya juga tidak berkata; “Nanti kalau Abi ada rezeki, Abi belikan ya kertas suratnya…”

Logis sih, karena bisa jadi ketika Abi ada rezeki, barang yang saya mau (misalnya kertas surat wangi dan bergambar indah itu) sudah tidak ngetrend lagi untuk dijadikan koleksi. Punya tapi telat, kan rasanya ketinggalan jaman banget. Dan memang trend itu begitu. Berubah dengan cepat seiring cuaca.

Ketika Abi ada rezeki, yang Abi belikan pada kami adalah buku. Macam-macam buku dan majalah. Kami juga berlangganan majalah anak-anak Aku Anak Saleh dan Orbit, di samping berlangganan koran Republika. Kami punya setumpuk koleksi kisah nabi-nabi terbitan Rosda Karya yang nama belakang penulisnya saya ingat “Pamungkas”. Saya ingat nama belakangnya saja, karena dulu saya pernah bertanya pada Ummi: “Pamungkas itu artinya apa, Mi?” Ummi jawab: “Terakhir”. Saya ngomong lagi: “Berarti dia anak terakhir dong, Mi?” Ummi jawab: “Iya. Bisa jadi…”. Itu sekedar intermezzo.

Jadi rasanya aneh kalau bilang orangtua saya pelit karena anaknya tidak dibelikan ini-itu yang dimau. Karena memang orangtua saya tidak pelit kalau sudah menyangkut hal-hal-yang-memang-kami-butuhkan-bukan-sekedar-keinginan. Saya ingat, Ummi bahkan pernah menjual cincin satu-satunya agar saya dan Rusyda (adik saya) bisa ikut acara kemah dari sekolah. Acaranya selama tiga hari dan banyak perlengkapan yang harus dibawa. Di saat yang bersamaan, Ummi dan Abi tidak punya cukup uang untuk biaya kemah tersebut. Maka Ummi pergi pagi-pagi ke Pasar Pondok Gede, menjual satu-satunya cincin miliknya yag polos tanpa ukiran dan permata sebagai hiasan, dan pulang ke rumah membawa pula barang-barang yang kiranya kam perlukan selama kemah.

Saya tahu kemudian Ummi menjual cincinnya untuk kami, ketika saya dapati pulang dari pasar Ummi tidak memakai cincin itu lagi. Padahal, cincin itu adalah ciri khasnya. Selalu ada di jari manis kanannya. Sehingga janggal sekali bila mendapati Ummi tanpa cincin emas polos itu.

Peristiwa sederhana ini yang kemudian selalu ingatkan saya; bahwa orangtua kami yang sederhana ini, sebetulnya kaya. Mereka punya banyak stok kesabaran untuk mendidik kami secara konsisten. Mereka punya banyak stok keikhlasan untuk tidak mengungkit apa yang telah mereka lakukan. Mereka punya banyak stok harapan untuk melihat kami menjadi ‘seseorang’ bukan ‘seonggok’.

Hikmah besar di balik ‘kepelitan’ mereka untuk tidak selalu memberikan apa saja yang kami minta; kami belajar menghargai apa saja yang mereka berikan. Kami masih menyimpan boneka yang Ummi belikan ketika kami masih kecil. Jarang-jarang kan Ummi belikan kami boneka? Jadi begitu Ummi memberikan boneka pada kami, boneka itu kami jaga baik-baik. Kami pajang di lemari. Begitu juga buku-buku dari masa kecil kami. Belakangan, kami sumbangkan buku-buku itu untuk taman bacaan dekat rumah.

Bukan hanya pemberian berupa barang, tapi juga momen-momen bepergian yang jarang kami lakukan. Sekalinya kami pergi bersama, walau itu hanya makan bersama di warung tenda pinggir jalan, kami benar-benar menikmatinya dan mengabadikannya dengan cara kami. Yang rajin menulis buku harian, menulis di buku hariannya. Yang senang menggambar, menggambarkan apa saja yang dilihatnya selama pergi bersama.

Coba kalau orangtua kami ‘murah hati’. Kami nangis sedikit, maka datanglah apa yang kami minta. Bisa jadi lambat-laun kami tidak menghargai apa-apa yang orangtua kami berikan karena saking seringnya menerima pemberian dari orangtua kami. Alih-alih berterimakasih, mungkin kami akan protes; “lho kok yang begini? Kan aku minta yang begitu!”. Dengan selektifnya orang tua kami dalam memberikan sesuatu, secara tak langsung kami belajar bagaimana harus berterimakasih dan menghargai pemberian orang lain.

Selain itu, ke-konsisten-an mereka untuk menolak membelikan sesuatu yang manfaatnya kecil, membuat kami belajar setiap kali ada benda yang kami inginkan. Kami belajar menganalisis sendiri, apakah benda itu kemudian layak kami miliki? Kalau tidak, sudahlah lupakan benda itu.

Lalu, adakah kemudian di saat dewasa dan punya penghasilan sendiri, saya dendam untuk memiliki benda-benda yang tak sempat saya miliki di waktu kecil? Untungnya tidak. Sebabnya karena itu tadi, kami senantiasa diajak menganalisis; apakah benda yang saya inginkan ini bermanfaat? Bahkan sampai sekarang, kalau saya punya uang sendiri dan mau beli sesuatu, Ummi pasti menodong dengan pertanyaan; buat apa?

Pernah juga terbersit; Kok Ummi gitu sih? Selalu tanya buat apa. Ini kan uangku sendiri!

Tapi entah bagaimana, ujung-ujungnya saya berpikir ulang; apa manfaat benda itu untuk saya? Dan urung untuk membeli benda tidak penting itu. Mungkin karena saking kuatnya doa Ummi, sampai-sampai saya selalu tidak bisa membantah apa kata Ummi. Walau awalnya membantah, selalu saja berakhir dengan gumaman pada diri sendiri; iya ya, bener juga.

***

Karena kami keluarga sederhana, imbasnya bukan saja susah kalau mau meminta sesuatu. Tapi juga berimbas dari desain rumah kami yang sederhana. Ruangan yang disekat hanya kamar tidur dan kamar mandi. Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan menyatu tanpa sekat. Tidak ada lantai dua. Kamar pun hanya tiga; kamar orangtua, kamar anak perempuan, dan kamar anak laki-laki. Tagline untuk rumah kami; ke kanan nyenggol, ke kiri nyenggol.

Hikmahnya punya rumah dengan desain nge-blong begini adalah adanya kontrol yang maksimal di antara anggota keluarga. Kalau ada satu anak yang lagi suram, seisi rumah akan segera tahu karena pas sembunyi di kamar, eh saudara yang lain masuk kamar (yang memang nggak ada kuncinya) terus melihat saudaranya yang satu ini lagi menangis. Melaporlah si saudara yang lain ini pada Ummi; “Mi, Kak Anu nangis di kamar…” Nanti kata Ummi; “Husss… udah diemin dulu…”

Walaupun begitu, Ummi dan Abi menghargai privasi kami. Mereka tidak pernah membuka-buka laci kami tanpa keperluan. Mereka percaya sekali, bahwa satu sama lain di antara kami akan saling mengingatkan kalau misalnya ada suatu barang yang bermasalah. Kan kalau barang itu disembunyikan, artinya barang itu bermasalah. Misalnya saja saya menyembunyikan coklat. Tidak perlu menunggu besok, adik saya yang lain sudah akan menemukannya di hari yang sama. Dan coklat itu memang barang yang bermasalah karena tidak dibagi.

Masih soal kontrol di antara anggota keluarga, semua ruangan yang bermuara di ruang tengah ini juga membawa keuntungan tersendiri bagi Ummi dan Abi. Mereka jadi mudah mengontrol aktivitas kami. Cukup duduk di ruang tengah, maka akan terlihat si Asiah lagi apa, Rufaida lagi apa, Hania lagi apa, dan yang lainnya. Selain itu, juga jadi mudah melihat siapa yang sudah sesore ini belum pulang ke rumah.

Sosialisasi pun tak perlu membuang energi banyak. Misalnya, merutinkan mengaji setiap habis maghrib. Tak perlu menggedor setiap pintu kamar sambil bilang: “hoi, ngaji!”. Sekali lagi, duduklah Ummi di ruang tengah sambil bilang; “ayo, ayo ngaji…” kemudian Ummi dan Abi mengaji di ruang tengah. Yang tadinya urung mengaji, jadi malu sendiri karena seisi rumah mengaji. Begitu juga kebiasaan berdiskusi di rumah kami. Ummi dan Abi jarang berdiskusi hanya berdua di kamar—kecuali kalau hal yang mereka diskusikan bukan menjadi urusan kami. Mereka terbiasa membaca buku, menghafal Qur’an, hadits, juga berdiskusi—dari soal agama, politik, sosial, sampai ekonomi—di ruang tengah. Mau tak mau, kami jadi ikut mendengar dan terbiasa dengan iklim itu.

Abi dan Ummi juga biasa menceritakan apa yang mereka alami hari itu kepada kami semua. Walau mungkin sebenarnya menceritakannya hanya kepada Abi atau Ummi. Tapi apa mau dikata, mereka bercerita di ruang tengah. Kami juga jadi ikut-ikut dengar, lalu nimbrung, lalu ikut-ikutan bercerita. Lama-lama kami pun biasa saling bertukar pengalaman di ruang tengah. Entah sambil makan, atau sambil belajar.

Orangtua kami tidak memaksakan terbangunnya suasana akrab. Mereka tidak memaksa diri mereka untuk nyambung dengan dunia kami. Suasana akrab itu terbangun karena kebiasaan yang sudah lama dibiasakan sejak kami masih kecil; saling terbuka dan bercerita. Rasanya kok aneh saja kalau tidak cerita ke Ummi. Sehingga keresahan-keresahan yang kami rasakan—terlebih yang berhubungan dengan identitas kami sebagai muslim/ah yang mencoba ber-Islam secara kaffah—akan tercetus begitu saja, tanpa perlu ragu menceritakannya pada orangtua.

***

Kalau memutar kembali memori, sepertinya orangtua kami tidak terlalu repot menjebloskan kami untuk aktif dalam tarbiyah. Pemahaman kami akan pentingnya tarbiyah, tidak dipupuk dalam sehari langsung jadi. Di rumah sederhana kami, permasalahan ummat menjadi tema diskusi asyik. Dari diskusi ke diskusi, kesadaran kami akan pentingnya tarbiyah menjadi tumbuh sendiri. Pada awalnya malas datang ke tempat liqo. Kan bisa belajar aja sama Ummi, bantah kami. Tapi Ummi bilang, di rumah belajar juga, di luar belajar lebih banyak lagi. Tidak tanggung-tanggung, saya dan Milla sempat merasakan bagaimana Abi benar-benar amat memaksa kami sampai-sampai kami diantar ke tempat liqo, dan ditunggui pula sampai liqo selesai.

Kesannya, Abi kok kayak ga punya kerjaan lain aja selain nganterin anak liqo dan nungguin. Tapi pemaksaan serupa itu, membuat kami mencerna sendiri; berarti liqo itu emang penting banget ya, sampe-sampe Abi mau nganter dan nungguin aku…

Kami juga tidak lepas dari badai keinginan ingin pakai celana panjang dan jilbab agak naik sedikit. Keresahan itu kami ungkapkan pada Ummi; “kok si Anu pakai bajunya begitu, Mi. Aku boleh ga pakai baju kayak dia? Abis kemaren aku ke sekolah pakai rok dibilangnya kayak ibu-ibu…”

Nah lho… kalo saya jadi Ummi, saya bingung juga mau nasehatin kayak apa.

Ummi pada awalnya membolehkan kami memakai celana panjang asal longgar. Jilbab juga yang penting menutup dada, tidak perlu sampai lewat pinggang. Tapi kok ya baju yang dibelikan Ummi pada kami lagi-lagi rok. Ya apa boleh buat. Toh roknya juga not bad kok. Dan Ummi sekali waktu bilang: “perempuan itu lebih anggun tau kalo pake rok…” agak membesarkan hati sedikit. Tapi kemudian di sekolah, dikomentarin teman lagi: “Perasaan lo pake rok terus deh, sekali-kali dong pake celana panjang… gue pengen deh liat penampilan lo pake celana panjang…”

Komentar teman seperti di atas selalu bikin ciut. Untung kami punya Ummi. Lagi-lagi lapor ke Ummi, teman komentar begini, begitu. Ummi akan bilang: “ga usah didengar… Mereka memang selalu berkomentar. Orang itu kalau mau jadi lebih baik memang cobaannya banyak. Kalau kamu ciut hanya karena komentar begitu, sekarang bayangin jaman dulu waktu jilbab belum zamannya, perempuan yang pakai jilbab dijauhi orang, disangka aliran sesat, bahkan ada yang diusir dari rumah… Padahal perintah pakai jilbab itu ada di Al Qur’an, tapi malah dihina…”

Cerita-cerita itu membuat kami merasa tidak sendiri. Lagipula, kami biasa berbeda. Kami tidak tinggal di tengah-tengah keluarga tarbiyah yang lain. Kami tinggal di kampung yang tingkat pendidikan masyarakatnya rendah sampai-sampai anak kecil diajarkan buang air di kebun-kebun. Sampai-sampai pula, keluarga kami dicap orang Muhammadiyah yang kalo mens pun perempuan tetap sholat, dan kalau ada yang meninggal tidak disholatkan. What? Kayaknya orang Muhammadiyah ga gitu deh…

Jadi, menjadi berbeda di sekolah atau di antara teman sepermainan, adalah menambah sedikit daftar perbedaan kami. Orangtua selalu membesarkan hati kami lewat cerita dan diskusi. Bahwa menjadi berbeda itu sama sekali tidak buruk. Untungnya, nasehat ini tidak serta merta muncul ketika kami puber, di mana kami sudah kenal ‘dunia luar’. Mungkin karena Ummi saya tidak sibuk, dan Abi juga tidak sibuk dalam pekerjaan, jadi kami tidak mengalami missing age di mana ada kalanya kami jauh dari Ummi dan Abi. Mereka benar-benar orang terdekat kami dan teman sejati kami; orang-orang pertama yang kami hampiri ketika ada keresahan dan pertanyaan. Dan saya yakin betul, kedekatan ini tidak dibangun dalam hitungan hari, tapi hitungan tahun; sejak saya masih kecil, hingga kini umur saya menginjak 24 tahun.

***

Tidak ada hal khusus yang diterapkan orangtua kami untuk mendidik kami. Tidak ada buku parenting bertumpuk-tumpuk. Mereka tidak hapal teori psikologi pendidikan. Bahkan mungkin tidak tahu juga ada teori itu. Mereka juga tidak rajin ikut seminar-seminar parenting. Mereka terlampau sederhana untuk itu semua. Mereka mendidik kami dengan ilmu yang mereka punya ditambah dua hal saja: kontinyu dan konsisten. Kontinyu dalam hal mengingatkan, menasehati, dan mencontohkan. Konsisten dalam hal sekali bilang tidak maka tidak; tidak ada prinsip yang berubah.

Seperti matahari pada gugusan bima sakti, mereka terus menyinari, terus menjadi pusat kehidupan kami, tak bosan, tak lelah.

sumber : pkspondokgede

PKS Manokwari Lanching Rumah Keluarga Indonesia

Written By Torik on Kamis, 30 Juni 2011 | 16.58

pkspanmas.com Bidpuan DPD PKS Manokwari menggelar acara Lanching Rumah Keluarga Indonesia Ahad (19/6) lalu . Acara yang dilaksanakan di depan kantor DPW PKS Papua Barat sejak pukul 06.00 WIT ini sekaligus untuk menyambut hari keluarga Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Juni 2011.

Dimulai dengan senam Nusantara, Launching Rumah Keluarga Indonesia dihadiri oleh sekitar 200 orang kader dan simpatisan PKS Manokwari ini digelar dengan cukup meriah.

Siti Kholifah, ketua Bidpuan DPD PKS Manokwari menyampaikan dalam sambutannya bahwa Rumah Keluarga Indonesia ini merupakan salah satu program yang telah dicanangkan oleh DPP PKS dalam pengokohan keluarga Indonesia. "Dengan adanya Rumah Keluarga Indonesia atau yang disingkat dengan RKI diharapkan dapat menjadi salah satu fasilitas dalam pemecahan masalah keluarga terutama di kota Manokwari Papua Barat," tutur beliau.

Selanjutnya acara launching ini juga dimeriahkan dengan lomba masak nasi goreng keluarga yang diikuti oleh 28 keluarga . Ibu Ngestu Supini Patmawati sebagai ketua panitia menyampaikan dalam sambutannya bahwa acara lomba masak keluarga ini dipilih oleh panitia dengan harapan dapat menjadikan keluarga yang memiliki kerjasama yang baik antar anggota keluarga serta dapat meningkatkan keharmonisan keluarga. (islamedia)

Dongeng Jama’ah

Written By Torik on Senin, 20 Juni 2011 | 09.59

pkspanmas.com | Suatu waktu ketika hari pembalasan tiba, Malaikat menanti para manusia yang akan digilirkan dalam penghisaban untuk masuk ke surga atau neraka. Mereka datang dengan sendiri-sendiri dan ada juga yang berkelompok-kelompok sesuai dengan jamaahnya. Sebelum mereka masuk untuk dihisab Malaikat bertanya kepada setiap manusia, “hai Kamu dari jama’ah mana?” saya jamaah A pak Malaikat, jawab manusia. “ya silahkan masuk lewat pintu sini…” kata malaikat.

Malaikat terus mengabsen para manusia, ada dari jamaah A, B, C dan sebagainya, hingga sampailah pada seseorang manusia yg datang seorang diri.

Malaikat kemudian bertanya, “hai manusia, kamu dari jamaah mana?”

Manusia itu menjawab :”saya tidak dari jamaah mana-mana pak malaikat, saya seorang diri saja”

Malaikat :”loh?? kenapa begitu? kenapa kamu tidak masuk jamaah A, B, C atau lainnya??

Manusia : “Tadinya aku berada di jamaah A, Aku diberikan pendidikan keislaman dari jamaah A, tapi aku merasa ada yang tidak cocok dengan jamaah A. para qiyadah di jamaah A, sudah tidak berada pada jalan dakwah yang benar. Sangat berbeda dengan Rasulullah. dan akhirnya saya keluar deh dari jamaah A yang membesarkan saya”

Malaikat : “terus kenapa kamu tidak masuk jamaah B?”

Manusia : “saya kurang suka dengan jamaah B, cara berdakwahnya kurang saya minati, orang-orangnya juga saya tidak suka”

Malaikat : “jamaah C?”

manusia : “walaupun mengikuti Al qur’an dan hadits tapi ga seluruhnya.. anggotanya juga banyak yg mengecewakan saya”

Malaikat : “(bergumam : set dah ini manusia, dia pikir jamaah-jamaah itu jamaah malaikat kali ya?”)

Malaikat : “Terus apa yang kamu lakukan seorang diri? bagaimana amal-amal harian kamu dengan seorang diri? bagaimana dakwah yang kamu lakukan dengan seorang diri? Ada berapa orang yang kamu dapati kemudian kamu menyeru kebaikan kepada mereka dan mereka mengikuti? Sadarkah ketika Engkau berada seorang diri kemudian dihadapkan kepada perbuatan maksiat? sadarkah kau bahwa srigala lebih leluasa dan lebih berani memakan domba yang sendirian?”. “Hai Manusia… kalian itu Jamaah Manusia, bukan jamaah malaikat seperti kami yang tidak ada khilaf, salah dan dosa. Jangan engkau banding-bandingkan apalagi disama-samakan qiyadah dalam jamaah kalian dengan Rasulullah SAW. Jangankan menyamai Rasulullah SAW, mendekati amalan-amalan para sahabat saja mungkin belum bisa.”

Malaikat :”kalian itu jamaah manusia, bukan jamaah malaikat. kalian itu jamaah manusia, salah sedikit tidak mengapa karena kalian itu manusia bukan malaikat. Allah saja Maha Pemaaf, masa kamu tidak bisa memaafkan saudara-saudara kalian?? kemudian apakah amal-amal mu lebih baik dari saudara-saudara kalian? kemudian apakah ketika kamu yg memimpin bisa lebih baik dari saudara-saudara kalian”

Manusia : “gitu ya pak malai?!?!?! hiks…hiks…hiks… iya saya sangat menyesal pak malai… ;(”

***

Al Wafa secara bahasa bisa diartikan kesetiaan, loyalitas, keikhlasan, amanah. Namun, jika diartikan secara sederhana adalah “Kacang Tidak Lupa Kulitnya”

Makna Al Wafa yang lain adalah menepati janji. Semisal akad jual beli, akad nikah, akad dengan saudara kita, akad dijalan dakwah dan sebagainya.

itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.; sesungguhnya Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah (Al Isro : 34)

Salah satu ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang memenuhi janjinya. Orang yang wafa dan orang yang bertakwa sudah pasti orang yang mukmin (arkanul iman), muslim (arkanul islam) dan muhsin (selalu berbuat baik).

Ingat-ingatlah janji kita :

Kepada Allah SWT
Kepada Rasulullah SAW
Sudahkah kita selalu memenuhi janji kita kepada Allah, yang sederhana saja, apakah ketika panggilan Allah berkumandang apakah kita selalu tepat waktu berjamaah di masjid?
janji kepada gerakan da’wah yang kita aktif didalamnya.
dimanapun kita berada, dalam jamaah apapun kesetiaan harus tetap di munculkan. Jangan bandingkan Rasulullah dengan Ikhwah-ikhwah kita.
janji kepada teman sejawat
dan sebagainya..

“Ya Allah Kuatkanlah Gantunganku hanya pada-Mu saja, tidak dengan Manusia”

Wallahualam..
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS PANMAS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger