Latest Post
Beginilah...Tarbiyah Membentuk Mereka Luar Biasa!!
Written By Torik on Jumat, 14 Oktober 2011 | 18.30
Jadilah Kader Terlatih
Written By Torik on Rabu, 21 September 2011 | 16.50
Demikian wejangan (taujih) yang disampaikan Ketua Majelis Syuro PKS, KH Hilmi Aminuddin dihadapan fungsionaris Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS Bidang Wilayah Dakwah Banten, DKI Jakarta, dan Banten (Wilda Banjabar) belum lama ini di Padepokan Madani, Lembang Bandung.
Menurut Hilmi, dalam setiap merancang program atau rencana kerja, maka terlebih dahulu harus melihat kedalam atau internal organisasi. Sebab dengan mengenali potensi internal itulah nantinya bisa diperhitungkan apa saja langkah-langkah keluar organsasi. Berbicara tentang potensi internal, lanjut Hilmi, maka sejatinya yang utama dan pertama adalah kader. Sebagai partai kader, maka kewajiban segenap aktifis PKS harus mempersiapkan perangkat-perangkat kaderisasi partai.
Sebuah keniscayaan jika setiap fungsionaris partai kader terlibat penuh dalam langkah-langkah panjang menyiapkan kader. Kalau bukan organisasi kader, tidak ada perlunya menyiapkan langkah-langkah begitu panjang, menyiapkan personel dakwah. Dan sudah barang tentu, output yang diinginkan adalah kader-kader terlatih di segala bidang. Jika dia lebih condong atau diproyeksikan ke bidang sosial, maka jadilah kader yang terlatih dan menguasai persoalan-persoalan di bidang sosial. Jika dia menjadi politisi baik sebagai anggota legislatif maupun kepala daerah, maka dia harus terlatih saat berhadapan atau berkomunikasi dengan publik.
"Politisi harus bisa menguasai public speaking, sebagai bagian dari komunikasi dengan rakyat luas. Saya sering mendengar, masih banyak aleg-aleg kita banyak yang tidak “bunyi” di DPR/DPRD. Atau kalaupun bunyi malah meninggalkan persoalan,” ujar Hilmi.
Indonesia di era demokrasi seperti saat ini menyajikan ruang dan peluang terbuka bagi siapapun. Bagi PKS, demokrasi bisa dimaknai sebagai ruang-ruang yang harus dimasuki untuk mendapatkan peluang-peluang yang terbuka itu. Dan untuk bisa menangkap banyak peluang itu diperlukan keterampilan dan kualitas agar bisa berkompetisi.
Sebagai kader dakwah, maka kader PKS harus siap berkompetisi untuk menjadikan al haq (kebenaran) menjadi sesuatu yang dominan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya jika gagal menampilkan al haq dalam pentas kehidupan bangsa, maka kebatilanlah yang akan dominan dan menguasai kehidupan bangsa ini.
Sebagai syarat memiliki daya saing, pengalaman di lapangan sebagai medan latihan, adalah hal mutlak untuk menghasilkan kualitas dan profesionalitas dalam berkompetisi. Oleh karena itu jangan pernah lewatkan berbagai sarana latihan termasuk melatih kepedulian dan keterampilan membantu masyarakat di lokasi-lokasi bencana. Dalam mitigasi bencana itu dibutuhkan kesiapsiagaan, kemampuan berkoordinasi serta menyelesaikan masalah di lapangan. Dan itu adalah sarana terbaik untuk meningkatkan capacity building kader. Ibarat intan sinarnya akan muncul jika selalu digosok.
“Saya terkesan dengan sebuah kalimat yang terpampang di gedung Markas Kopassus TNI AD, Cijantung yang berbunyi, kami bukan prajurit terbaik namun kami adalah prajurit terlatih”, demikian Hilmi menyontohkan.
Ia pun meminta Wilda mendorong struktur di wilayah-wilayah maupun di daerah-daerah agar mempersiapkan kader-kadernya dengan berbagai macam pelatihan-pelatihan. Hal itu dimaksudkan agar kader memiliki kemampuan qudrot ala tahammul atau kemampuan memikul beban. (SL)
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com
Ketika Halaqah Tak Lagi Dirindui
Written By Torik on Selasa, 06 September 2011 | 08.58
Majelis pekanan yang lazim dikenal sebagai halaqah, tak bisa dipungkiri adalah nadi bagi sebuah harakah Islamiyah. Di dalamnya, para kader dakwah berinteraksi secara intim dan intens di bawah bimbingan seorang Murabbi. Pertemuan-pertemuan pekanan semacam ini haruslah dinamis dan produktif agar harakah Islamiyah dapat terus menggulirkan amal-amal dakwah demi kejayaan Islam. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa tak selalu halaqah ini berjalan mulus. Ada kalanya rutinitas pekanan ini didera kelesuan. Karena bagaimanapun pribadi-pribadi di dalamnya adalah manusia, bukan kumpulan para malaikat, yang memiliki iman yang fluktuatif.
Mengapa sebuah halaqah tak lagi nyaman didatangi?
Pertama, disorientasi tujuan.
Motivasi orang mengikuti kajian rutin seperti halaqah sangat beragam. Ada yang karena ingin mendalami ilmu agama. Ada yang tertarik oleh ajakan kawan. Ada yang bersungguh-sungguh ingin menegakkan agama Allah. Pun tak sedikit yang semangat berhalaqah agar naik jenjang keanggotaan dalam jamaah. Nah, ketika dirasa peluang naik tingkat sangat kecil, bukan tidak mungkin semangat yang sebelumnya menyala-nyala bisa langsung padam. Disorientasi tujuan ini berkaitan erat dengan ruhiyah seseorang sehingga ketika ada yang mengalami hal ini, maka pasokan ruhiyahnya harus ditingkatkan. Bisikan-bisikan hawa nafsu harus ditepis agar keikhlasan tetap terjaga. Komitmen bergabung dalam jamaah dakwah harus dikuatkan kembali.
Kedua, pelaksanaan halaqah yang membosankan.
Bagaimanapun, mengelola halaqah ada seninya. Meskipun kurikulum sudah ada, silabus sudah lengkap dan tujuan masing-masing materi sudah jelas, tetap saja diperlukan strategi agar halaqah berjalan dinamis dan penuh kesan. Halaqah yang melibatkan semua komponen dan bergerak menuju arah yang sama tentulah halaqah yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Oleh karenanya setiap individu di dalam halaqah memiliki peranan yang sangat penting demi mewujudkan halaqah yang dirindui.
Ketiga, hubungan Murabbi dengan mutarabbi.
Murabbi sebagai pemimpin dan pengendali halaqah memegang peranan yang paling penting. Sosoknya haruslah mampu diterima semua anggota kelompok. Tidak ada penolakan terhadap dirinya. Imam Hasan Al Banna mengibaratkan figur ini sebagai syaikh dalam hal kepakaran ilmu, orang tua dalam hal kasih sayang, guru dalam hal pengajaran, kakak dalam hal teladan dan pemimpin untuk urusan ketaatan.
Pernah ada seorang mutarabbi yang menyampaikan kepada Murabbinya, “Ustadz, saya usul dalam halaqah kita ketika adzan Isya’ berkumandang marilah kita segera shalat berjamaah sebagaimana ketika kita shalat Maghrib.” Tak dinyana, jawaban Sang Murabbi begini.”Akhi, saya ketika halaqah dengan para doktor-doktor syariah biasa saja gak shalat Isya’ jamaah waktu halaqah. Shalatnya nanti di rumah saja biar waktu halaqah nggak terlalu lama. Saya rasa, yang perlu diperbaiki itu komitmen Antum. Antum suka datang telat, waktu halaqah tidur, kurang ihtiram, gak setor hafalan….”
Menjadi pemimpin, tak boleh alergi kritik sebagaimana menjadi mutarabbi pun tak boleh alergi nasihat dan teguran. Ketika jawaban tersebut disampaikan, maka si Al akh pun balik membalas, “Ustadz, saya kan usul. Usul itu bisa diterima atau ditolak. Kalo diterima, Alhamdulillah kalo nggak ya nggak apa-apa. Jangan malah membeberkan aib-aib saya…”
Ketika hubungan Murabbi-Mutarabbi seperti ini –saling menyerang- pastilah halaqah bukan lagi momen yang dirindukan. Ia akan menjadi waktu yang tidak diharapkan, atau dijalani dengan terpaksa. Dihadiri tanpa semangat. Oleh karenanya harus ada hubungan yang mesra antara Murabbi dengan mutarabbi-nya. Jika hubungan ini sudah tercipta, niscaya halaqah akan menjadi momen yang dinanti-nanti.
Keempat, melemahnya militansi.
Bisa jadi, masa-masa awal mengikuti halaqah adalah momen-momen yang tak terlupakan. Berkobar-kobarnya semangat dan keinginan meninggikan agama Allah. Setelah itu akan dirasakan kestabilan dan keadaan yang biasa-biasa saja. Kesibukan dunia, rutinitas kerja, tuntutan-tuntutan di luar dakwah dan kompleksitas dari ketiga faktor di atas akan melemahkan militansi. Pada kondisi seperti ini, halaqah bisa berubah menjadi sekedar rutinitas yang menjemukan. Hanya akan menjadi majelis ‘setor muka’. Jika ini yang terjadi, maka wajarlah jika kelak lambat laun halaqah tak akan lagi dirindui. Oleh karenanya, bangkitlah! Semangat itu tak dicari, tapi ditumbuhkan. Kemudian dipupuk dan dijaga dari hama dan virus yang akan melemahkannya. Militansi tak kenal musim. Ia harus dijaga senantiasa hidup dan menjadi api perjuangan.
Wahai Saudaraku, mari tumbuhkan kerinduan akan hari itu. Hari pertemuan kita dengan saudara yang diikat karena Allah. Hari yang di dalamnya penuh keberkahan dan doa para malaikat. Satu hari dalam setiap minggu yang kita dedikasikan untuk menghasilkan amal-amal dakwah dalam bingkai harakah Islamiyah…
(dakwatuna.com)
Beruntunglah Kita Tarbiyah
Written By Torik on Selasa, 09 Agustus 2011 | 05.55
pkspanmas.com | SATU pagi di pekan ini. Seorang ikhwah terlihat sedang berjalan menyusuri trotoar yang berjarak lebih 10 kilo meter dari rumahnya. Tas ransel menempel di punggungnya, membentuk kesan beberapa tahun lebih muda. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab: “Sebentar lagi mukhayam, ana perlu menyiapkan diri. Lagi pula, ana merasa selama ini kurang riyadhah” Bagaimana dengan riyadhah atau olah raga pekanan, bukankah harusnya rutin berjalan? “Itulah kelemahan ana. Selama ini hanya riyadhah ala kadarnya. Beberapa pekan yang lalu ana jatuh sakit, diantara penyebabnya terlalu banyak duduk dan kurang olah raga.”
“Untunglah tarbiyah ‘memaksa’ kita untuk hidup seimbang. Termasuk menjadikan mukhayam (acara kemah kepanduan) sebagai salah satu sarananya. Itu sangat mengingatkan dan membantu ana. Entahlah apa jadinya kalau ana tidak ikut tarbiyah. Beberapa teman ana sudah kena stroke, kebanyakan adalah mereka yang jarang olahraga.”
Subhaanallah… ternyata aktif dalam tarbiyah bukan saja membuat kita dekat dengan Allah SWT dan memahami Islam lebih syamil. Benar juga, seringkali dengan sistem yang baik, kita “dipaksa” menjadi baik. Demikian pula tarbiyah. Ia “memaksa” kita untuk menjalani hidup dengan seimbang. Setidaknya tiga aspek besar kehidupan menjadi perhatian: ruhiyah, fikriyah, jasadiyah.
Riyadhah, mukhayam, dan sejenisnya “memaksa” kita untuk memenuhi hak fisik kita. “Atas fisik kalian ada hak yang harus ditunaikan,” demikian Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits.
Dengan fisik yang sehat, bugar dan kuat, banyak kewajiban yang bisa kita tunaikan lebih mudah. Bukankah terlalu banyak ibadah di dalam Islam yang membutuhkan fisik yang sehat? Dalam lima rukun Islam saja, tiga diantaranya membutuhkan fisik yang sehat; shalat, puasa, lebih-lebih haji. Jika dipikir lebih jauh, zakat sebenarnya juga membutuhkan fisik yang sehat, secara tak langsung. Dengan fisik yang sehat seseorang bisa berpenghasilan, dari penghasilan seseorang memiliki harta yang jika mencapai nishab dan haul, barulah ia berkewajiban zakat. Ternyata zakat juga berhubungan dengan fisik yang sehat.
Ibadah ghairu maghdah juga begitu. Hampir selalu membutuhkan fisik yang sehat. Bekerja untuk memberi nafkah keluarga, berdakwah, berharakah, semuanya membutuhkan fisik yang sehat. Bahkan fisik yang bugar dan kuat. Sungguh luar biasa sabda Nabi : “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
Kita mungkin pernah bertanya saat membaca Risalah Ta’alim, mengapa Hasan Al-Banna mendahulukan qawiyyul jism daripada aspek lain termasuk matinul khuluq dan salimul aqidah? Cerita ikhwah di atas barangkali memudahkan kita untuk menjawabnya. Hasan Al-Banna menekankan pentingnya tarbiyah jasadiyah agar diperhatikan aktifis dakwah yang umumnya secara aqidah dan akhlak sudah tidak ada masalah. Wallaahu a’lam bish shawab.
Sumber: www.pks-tegalkota.com
Renungan Ramadhan -KH Rahmat Abdullah-
Written By Torik on Kamis, 04 Agustus 2011 | 15.01
pkspanmas.com | “Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang.”-KH Rahmat Abdullah- Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.
Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH– menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.
Kini –dibulan ini (Ramadlan)– ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.
Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ as-shiyami
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.
Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)
Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”
Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.
Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.
Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.
Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185).
Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukangtiru yang rakus.
Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?
Al Qur’an dulu baru yang lain
Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.
Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.
Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an di hati
Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.
Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?
Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!
Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin
Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan.
Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.
Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).
Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.
Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius.
~KH. Rahmat Abdullah~
Ramadhan Syahrul Jihad Wadda’wah
Written By Torik on Selasa, 02 Agustus 2011 | 13.28
pkspanmas.com |Ramadhan telah datang, semangat keIslaman mulai terlihat disana sini, masjid yang biasanya sepi kini terlihat ramai dan sesak dengan jamaah yang akan melaksanakan sholat Taraweh ,takmir masjidpun sibuk mengurusi jamaah agar semua dapat terlayani dengan baik. setelah usai pelaksanaan sholat taraweh yang diiringi Kultum , sebagian jamaah dan pengurus masjid mengisi waktu dimalam itu dengan tadarrus Al-qur,an ,keesokan harinya ba’da sahur dan sholat subuh diadakan acara kuliah subuh...Alhamdulillah begitulah biasanya fenomena awal ramadhan.apakah hingga Akhir ? tergantung.!Bagi para Aktifis dakwah (kader dakwah) fenomena ini adalah peluang yang cukup signifikan untuk berdakwah, awal ramadhan adalah saat banyak orang membuka hati untuk menerima nasihat dan kebenaran, meskipun akhirnya banyak diantara mereka yang tidak Istiqomah dikarenakan niat yang tidak kuat, namun inilah gambaran peluang agar setiap da’i memanfaat kan momentum ramadhan sebagai Syahrul jihadi wa da’wati (Bulan jihad dan dakwah) begitu besar pahala yang Alloh janjikan kepada mereka yang berjihad dalam keadaan shaum.
Rasulullah bersabda:“ Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari dalam jihad fi sabîlillâh melainkan pada hari itu, Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun" ( H.R. Bukhori, Muslim dan Tirmidzi )
Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:
"Siapa saja yang shaum satu hari di dalam jihad fisabilillah niscaya Allah menjauhkan antara diadan neraka dengan satu parit yang luasnya seluas langit dan bumi." (HR. ath-Thabran)
Proyek Jihad Ramadhan Dimasa Rasululloh
1. Kemenangan perangan Badar
Pada hari ke tujuh belas di bulan Ramadhan, tahun kedua Hijrah, Allah SWT menganugerahkan kemenangan yang cemerlang kepada kaum Muslim di hari itu. Sebuahkemenangan yang tidak mungkin dilupakan di sepanjang sejarah umat manusia. Allah SWT telah menerangkan peristiwa ini di dalam firmanNya:“
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Sesunnguhnya Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar , padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah . Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.[Ali Imran : 123]
إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلاَثَةِ آلاَفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُنزَلِينَ
(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mu'min: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?"[Ali Imran : 124]
Perang Badar merupakan peperangan besar pertama bagi ummat Islam. Rasulullah Saw meninggalkan Madinah bersama 313 sahabat, dua ekor kuda dan tujuh puluh ekor unta menuju ke Badar. Pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijrah mereka berhasil mengalahkan tentara musyrik yang berjumlah 1.000orang, yang dilengkapi dengan 100 ekor kuda dan 700 ekor unta yang datang dari Makkah di bawahpimpinan Abu Jahl sendiri.Dalam peperangan Badar, Allah SWT telah mengutus para malaikat yang bertugas membantu Rasulullah Saw. dulu, konon bila diberi pilihan untuk mengerjakan.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".[Al Anfal : 9]
Ketika menerima wahyu ini, Rasulullah sedang beristirahat sejenak. Namun, ketika beliau menerima wahyu tersebut, beliau mengangkat kepalanya disertai kegembiraan di wajahnya. Lantas beliau bersabda, “ Wahai Abu Bakar, sampaikanlah berita gembira, sesungguhnya kemenangan dari Allahsangatlah dekat. Demi Allah! aku melihat malaikat Jibril dan tentaranya telah datang seperti pasir yang bertaburan "
2. Penaklukkan kota Mekkah (Fathuh Mekkah)
Peristiwa “Fathul Makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan yaitu pada hari jum’at, tanggal 20 atau 21 Ramadhan tahun 8 Hijriyah (629 M, sekitar 10.000 kaum muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama Islam. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan kalimat akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.
Pada peristiwa tersebut Rosulullah menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah yang berjumlah 360 buah. Setelah itu Rosulullah berkata, “Hai orang-orang Quraisy, apa kiranya yang akan saya lakukan terhadap kalian di hari ini?” Mereka menjawab, “Sesuatu yang baik. Sebab engkau adalah saudara yang baik dan akan memperlakukan saudara dengan baik pula.” Nabi berkata, “Pergilah, kalian bebas”. Ini merupakan amnesti terbesar dan kasih sayang yang sangat agung. Jatuhnya Makkah membuka jalan untuk penakhlukkan seluruh jazirah Arab.
إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,"[An-Nasr : 1]
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً
"dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,"[An-Nasr : 2]
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.[An-Nasr : 3]
Bagi para kader dakwah yang ingin mengoptimalkan perannya sebagai pelayan ummat, dapat menyusun program da’wah yang lebih konfrehensip dan terukur untuk mensukseskan agar romadhan bisa menjadi unsur perubahan diri dan masyarakat.
Program Da’wah Romadhon
1. Tarhib Ramadhan amat dibutuhkan oleh masyarakat dalam rangka menanamkan kesadaran mencintai romadhon dan meng Ilmui ibadah ramadhan
2. Ramadhan ma’al Qur’an (Romadhon Bersama Al-Qur’an)
Banyak diantara saudara –saudara kita yang belum dapat membaca Al-qur’an akan sangat terbantu dengan kegiatan ini .
3. Ifthor jama’i (Buka puasa Bersama) untuk melekatkan hati para da’i dengan masyarakat.
4. Pesantren Kilat (Dauroh) dalam rangka Membangun kesadaran berIslam masyarakat dengan pemberian pengetahuan pemahaman keislaman .
5. I’tikaf fi asyrul Awakhir ( i’tikaf 10 hari terakhir) adalah salah satu sunnah Rasululloh yang saat ini mulai kembali dihidupkan Dan masih banyak lagi contoh program dakwah yang dapat dibuat agar Ramadhan dapat menjadi ajang dakwah dan perubahan bagi masyarakat....
6. Semakin banyak program dakwah yang lain sebagai Proyek para dai untuk berkiprah dan beramal da’awi dibulan Romadhon.
Wallohu a’lam bishowab
Ustadz Muhammad Ridwan
Kepompong Ramadhan
Written By Torik on Senin, 01 Agustus 2011 | 14.05
Dengan Puasa Kita Berkarya, PKS Bekerja Untuk Indonesia
Written By Torik on Sabtu, 30 Juli 2011 | 13.04
pkspanmas.com | Oleh: Heru Hidayat*(Sekretaris Umum DPW PKS Kalimantan Tengah)
…
Saudaraku, Alhamdulillah kita masih diberikan kemudahan dan nikmat dari Allah SWT, tentu saja ini sangat berharga bagi kita semua terutama dalam rangka persiapan menyambut ibadah di bulan ramadhan.
Saudaraku, bagi kita hal itu merupakan modal penting sebagai sarana menjaga kesehatan dan upaya meningkatkan keimanan kita sehingga dapat menjalankan setiap ibadah dengan penuh kebahagiaan dan keikhlasan.
Barangkali itulah harapan kita di saat ini untuk dapat menjalankan beragam ibadah di bulan yang dirahmati Allah SWT tersebut dengan baik bersama keluarga, dan masyarakat sekitar kita. Memang bulan ramadhan ini berbeda namun spesial maknanya karena didalamnya terdapat agenda puasa, shalat tarawih, i’tikaf di sepuluh hari terakhir, dan lailatul qadar serta balasan dari Allah SWT yang berlipat ganda, maka bulan ramadhan yang penuh berkah ini menjadi luar biasa bagi kita semua.
Belajar dari Sejarah
Saudaraku, sejenak kita melihat perjalanan sejarah bangsa kita, bangsa Indonesia yang senantiasa kita cintai bersama ini. Dimana telah melalui masa sulit yaitu masa penjajahan, para pejuang pada masa kemerdekaan itu telah berjuang membebaskan bangsa ini dari upaya penjajahan dan penindasan. Para pejuang dengan semangat yang begitu gigih dan tidak mengenal putus asa bahkan harus mengorbankan waktu, pikiran dan juga harta serta nyawa mereka dalam rangka memperoleh hak kemerdekaan bangsa Indonesia ini, tidakkah kita ingat dan membayangkan dimana masa-masa sulit saat itu. Sehingga semangat perjuangan dan tekad bersama para pejuang saat itu menghasilkan sebuah komitmen besar yang kemudian menghasilkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal tersebut bertepatan dengan bulan ramadhan, bulan disaat umat muslim menjalankan ibadah puasa namun telah menorehkan karya yang luar biasa.
Sejarah itu saudaraku, membuat kita semakin sadar dan termotivasi, untuk terus berbuat bagi bangsa ini sebagaimana para pejuang sebelumnya. Bagi para pejuang berbagai tantangan menghadang itu dihadapi dengan tekad, semangat dan kedekatan mereka dalam menjalankan perintah Allah SWT sehingga menjadi kekuatan yang dahsyat.
Saudaraku, sudah seharusnya kita mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT dan kita perlu banyak berterima kasih dan penghargaan kepada para pejuang bangsa ini, yang telah membebaskan dari belenggu penjajah dan yang memberikan inspirasi untuk terus berjuang dalam kebaikan dan kebenaran sehingga kita perlu banyak belajar dari perjalanan sejarah bangsa ini.
Kita tahu dan terus belajar
Saudaraku, suatu ketika saya pernah bertemu dengan seorang penulis buku “Guru Goblok ketemu Murid Goblok” namanya Iman Supriyono, dia menyampaikan beberapa hal kepada saya terkait motivasinya menulis buku dan keinginannya untuk terus belajar dari siapapun dan dimanapun, mengapa diberi kata-kata “goblok”, menurutnya adalah ingin menumbuhkan semangat baru untuk terus belajar, untuk memperbaiki yang masih belum baik dan menjadikan lebih baik dari yang sudah baik, tidak merasa sombong, baik posisinya sebagai murid maupun sebagai guru begitulah singkatnya.
Saudaraku, diantara kita ada yang menemui bulan ramadhan sudah beberapa beberapa kali karena segi usia memang sudah tua, namun bukan berarti kita telah mengetahui semua tentang ramadhan, yang masih dibutuhkan oleh kita untuk terus berupaya belajar sehingga ibadah yang kita lakukan di bulan ramadhan menjadi baik dan lebih baik.
Saudaraku, saat ramadhan tiba hampir setiap hari berbagai kajian dan ulasan terkait ramadhan ada di beberapa masjid maupun media, hal ini merupakan kesempatan buat kita untuk menambah wawasan dan menjadikan aktivitas ramadhan lebih baik. Sebagaimana kajian yang pernah dilakukan di salah satu masjid dengan tema puasa dan kesehatan pada tahun 2010 yang lalu bersama dr. Wildan, beliau menyampaikan bahwa puasa sangat bermanfaat baik untuk kesehatan jasmani maupun juga kesehatan rohani kita, karena merupakan sunatullah yang telah diatur oleh Allah SWT, banyak lagi informasi ilmiah yang dapat menambah semangat untuk puasa agar lebih baik sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan kita.
Saudaraku, salah satu kelebihan di bulan ramadhan ini adanya balasan yang berlipat ganda pada setiap kebaikan yang kita lakukan, sehingga salah satu agenda kebaikan itu adalah belajar dan terus belajar untuk mendapatkan bekal dan wawasan yang luas untuk kemanfaatan umat.
Dalam Al Quran surat Al-Mujaadilah : 11, Allah SWT berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi ilmu, dan mendorong pemeluknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya serta mengamalkannya. Namun, janganlah sampai kita menjadi sombong karena ilmu yang kita miliki.
Insya Allah kita bisa
Saudaraku, ingatkah kita ketika usia kita masih balita, ketika itu kita terus berupaya untuk bisa berdiri, walaupun beberapa kali kita pernah jatuh, namun terus berupaya untuk tegar dan berusaha sehingga akhirnya kita bisa berdiri. Hal itu karena adanya kesabaran dan ketekunan yang akhirnya membawa manfaat bagi kita hingga saat ini dapat berjalan, bahkan mampu untuk berlari.
Saudaraku, ketika usia menginjak sekolah dasar, orang tua kita selalu berusaha membimbing kita untuk turut serta berpuasa di bulan ramadhan, walaupun dilakukan setengah hari atau adakalanya secara sembunyi-sembunyi kita makan dan minum tanpa diketahui oleh orang tua kita, namun waktu terus berlalu dan pengetahuan, pemahaman, serta usia kita terus bertambah sehingga membuat cara kita berpuasa tentu saja harus sudah berubah karena kesadaran dan niat ibadah kita karena Allah SWT.
Mungkin itulah sesungguhnya setiap kita memiliki potensi untuk bisa, dimulai dari belajar, berlatih, dan terus berlatih dan akhirnya kita bisa.
Menghasilkan karya
Saudaraku, saat puasa di bulan ramadhan banyak kesempatan yang dapat kita optimalkan sebagaimana niat dan upaya kita terus memperbaiki program dan agenda di bulan penuh berkah ini, setidaknya dari niat yang ikhlas apalagi adanya program dan agenda maka akan kita dapatkan beragam karya yang bisa ditorehkan selama menjalankan ibadah di bulan ramadhan, misalkan agenda tilawah Al-Qur’an, agenda berbagi, agenda kajian intensif, agenda menulis, dan banyak lagi agenda maupun program positif bagi kita. Saudaraku, mungkin saja untuk menyiapkan secara sendiri belum bisa termotivasi, sehingga diperlukan rekan kita untuk menumbuhkan motivasi dan semangat tersebut. Itulah pentingnya kebersamaan dengan rekan kita yang memiliki misi yang sama untuk mewujudkan satu tujuan.
Saudaraku, kalaupun agenda dan program itu masih terasa berat, maka kita mulai dari yang ringan dan mudah, sehingga hal tersebut diharapkan menjadi terbiasa dan terus berupaya meningkatkannya. Insya Allah saudaraku, anda semua memiliki potensi menghasilkan karya yang spesial.
Bermanfaat dan bermakna
Saudaraku, pernahkah kita melihat pertunjukan akrobat, ketika seseorang harus melintasi tali berdiameter 5 cm sepanjang 30 meter dan tinggi 10 meter ternyata dengan mudahnya sang akrobat berjalan dan bahkan sukses melewatinya, tidak hanya itu saja sang akrobat kemudian menggunakan sepeda satu roda namun tantangan kali ini dia menggendong salah satu rekannya kemudian melewati tali yang terbentang itu hingga berhasil dengan baik, semua penonton saat itu bertepuk tangan karena kagum menyaksikan pertunjukan tersebut termasuk anda barangkali. Andaikan salah satu rekan yang tadi digendong sang akrobat tersebut sekarang diganti dengan anda, pertanyaannya adalah apakah anda bersedia turut serta dengan sang akrobat? Jika kita atau anda bersedia maka kita tidak sekedar percaya akan apa yang kita lihat namun juga kita semakin yakin bahwa hal tersebut dapat kita dilakukan.
Begitulah saudaraku, jika selama ini banyak orang-orang yang menghasilkan kebaikan ketika menjalankan ibadah ramadhan maka saatnya kita tidak saja hanya menyaksikan dan melihat disekitar kita ada orang yang bisa dan berhasil dan menjalankan puasa, namun kita bisa turut serta karena insya Allah kita juga bisa melakukanya.
Saudaraku, tidak sedikit dari karya yang dihasilkan secara pribadi memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, Sebagaimana para ulama dan pendiri bangsa ini dalam beraktivitas hidupnya banyak memberikan karya yang bermanfaat namun juga sangat bermakna bagi kehidupan di Indonesia. Semoga akan menjadi kenyataan bagi kita semua jika kita memulai ibadah ramadhan ini dengan niat yang baik, dengan program yang tertata, sehingga akan menghasilkan sebuah karya yang dapat bermanfaat dan bermakna terlebih buat diri kita, dan menjadi luar biasa ketika bermanfaat bagi masyarakat.
Wallahu a’lam bisshowab…semoga bermanfaat
*Penulis adalah Sekretaris Umum DPW PKS Kalimantan Tengah
hr_hida@yahoo.com/081349095335
Merancang Amalan Unggulan
Written By Torik on Selasa, 21 Juni 2011 | 14.47
Objektivikasi Islam: Antara Ka’bah dan Garuda
Written By Torik on Jumat, 17 Juni 2011 | 09.49
Sosiolog dan Magister Filsafat UI
Indonesia seakan tak pernah putus dirundung masalah terkait dengan keutuhan eksistensinya sebagai sebuah nation-state (negara-kebangsaan). Belum selesai negara ini dirongrong oleh gerakan keagamaan yang menamakan dirinya Negara Islam Indonesia (NII), datang lagi satu kasus yang mungkin lebih kecil skalanya, tapi sama merisaukan dalam hal prospek kehidupan berbangsa kita ke depan. Yaitu, tatkala dua sekolah SD dan SMP berbasis agama di daerah Tawangmangu dan Metesih, Karanganyar, Jawa Tengah, kedapatan telah bertahun-tahun menolak menggelar upacara bendera, membaca Pancasila, dan menyanyikan Indonesia Raya. Mereka hanya melakukan itu semua ketika diawasi.
Yang membuat galau dari peristiwa lokal ini adalah kian lunturnya paham kebangsaan Indonesia dan menguatnya radikalisme agama. Lebih lugasnya lagi, ini mencuatkan kembali pertentangan lama antara agama-khususnya Islam-dan negara. Atau, antara Ka’bah dan Garuda.
Objektivikasi
Perseteruan lama antara Ka’bah dan Garuda pada intinya sederhana saja. Yakni, sebagian penganut Islam merasa Islam bukanlah sekadar agama, melainkan juga ideologi. Oleh karena itu, seorang Muslim yang ingin menjalankan Islam secara total (kafah) berarti harus mencita-citakan Islam sebagai dasar negara. Artinya, negara ideal dalam benak orang yang punya pikiran ini adalah negara yang menjalankan syariat Islam berdasarkan Alquran sebagai sumber hukum utamanya.
Di sisi lain, bentuk negara yang menjadikan paham di luar Islam, katakanlah Pancasila, sebagai dasarnya dianggap sebagai negara sekuler yang menyimpang dari ajaran Tuhan. Padahal, Islam dan Pancasila tidaklah usah dipertentangkan karena keduanya memang tidak bertentangan. Sebaliknya, Pancasila sejatinya merupakan objektivikasi dari Islam itu sendiri.
Sebagaimana dikemukakan sejarawan Kuntowijoyo dalam “Identitas Politik Umat Islam” (1996: 68), objektivikasi adalah perbuatan rasional-nilai yang diwujudkan ke dalam perbuatan rasional sehingga orang luar pun dapat menikmati hasil dari perbuatan itu, tanpa harus menyetujui nilai-nilai asal. Maksudnya, Islam sebagai agama yang luhur tentu mengandung nilai-nilai universal. Akan tetapi, apabila nilai-nilai universal itu terbungkus dengan satu nama agama terlembaga (institutionalized religion) tertentu, orang dari luar agama tersebut tentu akan rikuh atau berpikir dua kali untuk menerimanya. Di sinilah objektivikasi memainkan peranan.
Sebagai contoh, Islam mengenal ajaran tentang ukhuwah yang berarti persaudaraan sesama umat. Sebenarnya, persaudaraan ini adalah sebuah nilai universal yang pasti diterima oleh siapa pun. Hanya saja, apabila dibungkus dengan kata ukhuwah, nilai tersebut seakan eksklusif milik Islam semata. Maka itu, konsep ukhuwah perlu mengalami objektivikasi menjadi, misalnya, konsep kesetiakawanan nasional atau kebangsaan yang mewujud dalam perbuatan konkret, seperti program perbaikan ekonomi atau pemerataan kesejahteraan bagi seluruh warga negara. Dengan objektivikasi yang demikian, warga negara yang non-Muslim pun dapat mengatasi hambatan psikologisnya untuk menerima konsep ukhuwah tersebut.
Aspek ketatanegaraan
Bahkan, objektivikasi ini juga sudah tercakup apik di dalam sistem ketatanegaraan kita. Seperti dikemukakan Prof Ismail Suny dalam “Mekanisme Demokrasi Pancasila” (1984: 8), kedua aspirasi ideologis, Islam dan Pancasila, sesungguhnya tidaklah bersifat dikotomis alias beroposisi diametral. Melainkan, keduanya sudah terakomodasi dalam sistem ketatanegaraan Negara Kedaulatan Republik Indonesia (NKRI). Pendeknya, UUD 1945 menganut ajaran Kedaulatan Tuhan, Kedaulatan Rakyat, dan Kedaulatan Hukum (popular theistic nomocracy) sekaligus.
Hal ini bisa dijelaskan melalui dua tahap. Pertama, kedaulatan itu pada hakikatnya pertama-tama berada pada Allah SWT. Akan tetapi, dalam kehidupan bernegara, tentulah Tuhan tidak turun tangan langsung mengaturnya. Pengaturan itu didelegasikan kepada rakyat dalam bentuk Kedaulatan Rakyat. Rakyatlah yang lantas memegang dan melaksanakan kedaulatan itu melalui mekanisme kenegaraan. Ringkasnya, kedaulatan rakyat Indonesia adalah penyelenggaraan kedaulatan Tuhan oleh seluruh rakyat yang merupakan hamba-hamba Tuhan.
Kedua, pelaksanaan perintah-perintah Tuhan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dimusyawarahkan oleh rakyat melalui perantara wakil-wakilnya. Hasil permusyawaratan rakyat itulah yang menjadi bentuk kesadaran hukum rakyat, yang ditetapkan oleh DPR bersama-sama presiden dalam bentuk pembuatan undang-undang.
Dengan kata lain, konsep Pancasila sebagai objektivikasi Islam telah meretas jalan tengah antara paham yang mengagungkan Islam sebagai ideologi (Ka’bah) dan paham yang mengutamakan Pancasila sebagai ideologi (Garuda). Negara Pancasila bisa dianggap sebagai bentuk final dari cita-cita kenegaraan umat Islam Indonesia.
Jadi, tidak perlu lagi ada dilema sebagaimana mungkin dirasakan oleh para murid dan guru di sekolah Karanganyar di atas. Yaitu, dilema untuk menjadi seorang Muslim yang saleh sekaligus sebagai warga negara yang baik dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Toh, pada akhirnya, menjadi warga negara yang baik sebenarnya sama saja dengan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang telah terobjektivikasi.
sumber : http://koran.republika.co.id/koran/24
Anak Kader PKS Berlomba Menjadi Hafidz
Written By Torik on Kamis, 16 Juni 2011 | 16.45
Adakah Berpolitik dan Berpartai Dicontohkan Nabi dan Sahabat?
Written By Torik on Jumat, 10 Juni 2011 | 09.11
Dengan realita seperti ini, sebagian kalangan lalu mengharamkan pemilu dan mendirikan partai. Alasannya, karena tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW, juga tidak pernah dilakukan oleh para shahabat belia yang mulia, bahkan sampai sekian generasi berikutnya, tidak pernah ada pemilu dan pendirian partai politik dalam sejarah Islam.
Bahkan sebagian dari mereka sampai mengeluarkan statemen unik, yaitu bahwa ikut pemilu dan menjalankan partai merupakan sebuah bid’ah dhalalah, di mana pelakunya pasti akan masuk neraka.
Ditambah lagi pandangan sebagian mereka bahwa sistem pemilu, partai politik dan ide demokrasi merupakan hasil pemikiran orang-orang kafir. Sehingga semakin haram saja hukumnya.
Tentu saja pendapat seperti ini bukan satu-satunya buah pikiran yang muncul di kalangan umat. Sebagian lain dari elemen umat ini punya pandangan berbeda.
Mereka tidak mempermasalahkan bahwa dahulu Rasulullah SAW dan para shahabat tidak pernah ikut pemilu dan berpartai. Sebab pemilu dan partai hanyalah sebuah fenomena zaman tertentu dan bukan esensi. Lagi pula, tidak ikutnya beliau SAW dan tidak mendirikan partai, bukanlah dalil yang sharih dari haramnya kedua hal itu. Bahwa asal usul pemilu, partai dan demokrasi yang konon dari orang kafir, tidak otomatis menjadikan hukumnya haram.
Dan kalau mau jujur, memang tidak ada satu pun ayat Quran atau hadits nabi SAW yang secara zahir mengharamkan partai politik, pemilu atau demokrasi. Sebagaimana juga tidak ada dalil yang secara zahir membolehkannya. Kalau pun ada fatwa yang mengharamkan atau membolehkan, semuanya berangkat dari istimbath hukum yang panjang. Tidak berdasarkan dalil-dalil yang tegas dan langsung bisa dipahami.
Namun tidak sedikit dari ulama yang punya pandangan jauh dan berupaya melihat realitas. Mereka memandang meski pemilu, partai politik serta demokrasi datang dari orang kafir, mereka tetap bisa melihat esensi dan kenyataan. Berikut ini kami petikkan beberapa pendapat sebagian ulama dunia tentang hal-hal yang anda tanyakan.
Seruan Para Ulama untuk Mendukung Dakwah Lewat Parlemen
Apa komentar para ulama tentang masuknya muslimin ke dalam parlemen? Dan apakah mereka membid’ahkannya?
Ternyata anggapan yang menyalahkan dakwah lewat parlemen itu keliru, sebab ada sekian banyak ulama Islam yang justru berkeyakinan bahwa dakwah lewat parlemen itu boleh dilakukan. Bahkansebagiannya memandang bahwa bila hal itu merupakan salah stu jalan sukses menuju kepada penegakan syariat Islam, maka hukumnya menjadi wajib.
Di antara para ulama yang memberikan pendapatnya tentang kebolehan atau keharusan dakwah lewat parlemen antara lain:
Imam Al-’Izz Ibnu Abdis Salam
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Muhammad Rasyid Ridha
Syeikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di: Ulama Qasim
Syeikh Ahmad Muhammad Syakir: Muhaddis Lembah Nil
Syeikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi
Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin
Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-AlBani
Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan
Syeikh Abdullah bin Qu’ud
Syeikh Dr. Umar Sulaiman Al-’Asyqar
Syeikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq
Kalau diperhatikan, yang mengatakan demikian justru para ulama yang sering dianggap kurang peka pada masalah politik praktis. Ternyata gambaran itu tidak seperti yang kita kira sebelumnya. Siapakah yang tidak kenal Bin Baz, Utsaimin, Albani, Asy-Syinqithi, Shalih Fauzan dan lainnya?
1. Pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
a. Fatwa Pertama
Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang dasar syariah mengajukan calon legislatif untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan hukum Islam atas kartu peserta pemilu dengan niat memilih untuk memilih para da’i dan aktifis sebagai anggota legislatif. Maka beliau menjawab:
Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal itu tergantung pada niatnya. Setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Oleh karena itu tidak ada masalah untuk masuk ke parlemen bila tujuannya memang membela kebenaran serta tidak menerima kebatilan. Karena hal itu memang membela kebenaran dan dakwah kepada Allah SWT.
Begitu juga tidak ada masalah dengan kartu pemilu yang membantu terpilihnya para da’i yang shalih dan mendukung kebenaran dan para pembelanya, wallahul muwafiq.
b. Fatwa Kedua
Di lain waktu, sebuah pertanyaan diajukan kepada Syeikh Bin Baz: Apakah para ulama dan duat wajib melakukan amar makruf nahi munkar dalam bidang politik? Dan bagaimana aturannya?
Beliau menjawab bahwa dakwah kepada Allah SWT itu mutlak wajibnya di setiap tempat. Amar makruf nahi munkar pun begitu juga. Namun harus dilakukan dengan himah, uslub yang baik, perkataan yang lembut, bukan dengan cara kasar dan arogan. Mengajak kepada Allah SWT di DPR, di masjid atau di masyarakat.
Lebih jauh beliau menegaskan bahwa bila dia memiliki bashirah dan dengan cara yang baik tanpa berlaku kasar, arogan, mencela atau ta’yir melainkan dengan kata-kata yang baik.
Dengan mengatakan wahai hamba Allah, ini tidak boleh semoga Allah SWT memberimu petunjuk. Wahai saudaraku, ini tidak boleh, karena Allah berfirman tentang masalah ini begini dan Rasulullah SAW bersabda dalam masalah itu begitu. Sebagaimana firman Allah SWT:
Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS An-Nahl: 125).
Ini adalah jalan Allah dan ini adalah taujih Rabb kita. Firman Allah SWT:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu? (QS Ali Imran: 159)
Dan tidak merubah dengan tangannya kecuali bila memang mampu. Seperti merubha isteri dan anak-anaknya, atau seperti pejabat yang berpengaruh pada sebuah lembaga. Tetapi bila tidak punya pengaruh, maka dia mengangkat masalah itu kepada yang punya kekuasaan dan memintanya untuk menolak kemungkaran dengan cara yang baik.
c. Fatwa Ketiga
Majalah Al-Ishlah pernah juga bertanya kepada Syeikh yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Saudi Arabia. Mereka bertanya tentang hukum masuknya para ulama dan duat ke DPR, parlemen serta ikut dalam pemilu pada sebuah negara yang tidak menjalankan syariat Islam. Bagaimana aturannya?
Syaikh Bin Baz menjawab bahwa masuknya mereka berbahaya, yaitu masuk ke parlemen, DPR atau sejenisnya. Masuk ke dalam lembaga seperti itu berbahaya namun bila seseorang punya ilmu dan bashirah serta menginginkan kebenaran atau mengarahkan manusia kepada kebaikan, mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan harta, maka dia telah masuk untuk membela agam Allah SWT, berjihad di jalan kebenaran dan meninggalkan kebatilan. Dengan niat yang baik seperti ini, saya memandang bahwa tidak ada masalah untuk masuk parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu kosong dari kebaikan dan pendukungnya.
Bila dia masuk dengan niat seperti ini dengan berbekal bashirah hingga memberikan posisi pada kebenaran, membelanya dan menyeru untuk meninggalkan kebatilan, semoga Allah SWT memberikan manfaat dengan keberadaannya hingga tegaknya syariat dengan niat itu. Dan Allah SWT memberinya pahala atas kerjanya itu.
Namun bila motivasinya untuk mendapatkan dunia atau haus kekuasaan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Seharusnya masuknya untuk mencari ridha Allah, akhirat, membela kebenaran dan menegakkannya dengan argumen-argumennya, niscaya majelis ini memberinya ganjaran yang besar.
d. Fatwa Keempat
Pimpinan Jamaah Ansharus sunnah Al-Muhammadiyah di Sudan, Syaikh Muhammad Hasyim Al-Hadyah bertanya kepada Syaikh bin Baz pada tanggal 4 Rabi’ul Akhir 1415 H. Teks pertanyaan beliau adalah:
Dari Muhammad Hasyim Al-Hadyah, Pemimpin Umum Jamaah Ansharus-Sunnah Al-Muhammadiyah di Sudan kepada Samahah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mufti umum Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Hai’ah Kibar Ulama wa Idarat Al-buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta’.
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Saya mohon fatwa atas masalah berikut:
Bolehkah seseorang menjabat jabatan politik atau adminstratif pada pemerintahan Islam atau kafir bila dia seorang yang shalih dan niatnya mengurangi kejahatan dan menambah kebaikan? Apakah dia diharuskan untuk menghilangkan semua bentuk kemungkaran meski tidak memungkinkan baginya? Namun dia tetap mantap dalam aiqdahnya, kuat dalam hujjahnya, menjaga agar jabatan itu menjadi sarana dakwah. Demikian, terima kasih wassalam.
Jawaban Seikh Bin Baz:
Wa ‘alaikumussalam wr wb. Bila kondisinya seperti yang Anda katakan, maka tidak ada masalah dalam hal itu. Allah SWT berfirman,”Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan.” Namun janganlah dia membantu kebatilan atau ikut di dalamnya, karena Allah SWT berfirman,”Dan janganlah saling tolong dalam dosa dan permusuhan.” Waffaqallahul jami’ lima yurdhihi, wassalam wr. Wb.
Bin Baz
2. Wawancara dengan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin
Pada bulan Oktober 1993 edisi 42, Majalah Al-Furqan Kuwait mewawancarai Syaikh Muhammad bin shalih Al-’Utsaimin, seorang ulama besar di Saudi Arabia yang menjadi banyak rujukan umat Islam di berbagai negara. Berikut ini adalah petikan wawancaranya seputar masalah hukum masuk ke dalam parlemen.
Majalah Al-Furqan :. Fadhilatus Syaikh Hafizakumullah, tentang hukm masuk ke dalam majelis niyabah (DPR) padahal negara tersebut tidak menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, apa komentar Anda dalam masalah ini?
Syaikh Al-’Utsaimin : Kami punya jawaban sebelumnya yaitu harus masuk dan bermusyarakah di dalam pemerintahan. Dan seseorang harus meniatkan masuknya itu untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk menyetujui atas semua yang ditetapkan.
Dalam hal ini bila dia mendapatkan hal yang bertentangan dengan syariah, harus ditolak. Meskipun penolakannya itu mungkin belum diikuti dan didukung oleh orang banyak pada pertama kali, kedua kali, bulan pertama, kedua, ketiga, tahun pertama atau tahun kedua, namun ke depan pasti akan memiliki pengaruh yang baik.
Sedangkan membiarkan kesempatan itu dan meninggalkan kursi itu untuk orang-orang yang jauh dari tahkim syariah merupakan tafrit yang dahsyat. Tidak selayaknya bersikap seperti itu.
Majalah Al-Furqan : Sekarang ini di Majelis Umah di Kuwait ada Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Ada yang mendukungnya tapi ada juga yang menolaknya dan hingga kini masih menjadi perdebatan. Apa komentar Anda dalam hal ini, juga peran lembaga ini. Apa taujih Anda bagi mereka yang menolak lembaga ini dan yang mendukungnya?
Syaikh Al-Utsaimin: Pendapat kami adalah bermohon kepada Allah SWT agar membantu para ikhwan kita di Kuwait kepada apa yang membuat baik dien dan dunia mereka. Tidak diragukan lagi bahwa adanya Lembaga Amar Makmur Nahi Munkar menjadikan simbol atas syariah dan memiliki hikmah dalam muamalah hamba Allah SWT. Jelas bahwa lembaga ini merupakan kebaikan bagi negeri dan rakyat. Semoga Allah SWT menyukseskannya buat ikhwan di Kuwait.
Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H bertepatan dengan bulan Mei 1996 Majalah Al-Furqan melakukan wawancara kembali dengan Syaikh Utsaimin:
Majalah Al-Furqan: Apa hukum masuk ke dalam parlemen?
Syaikh Al-’Utsaimin: Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan untuk mashlahat baik mencegah kejahatan atau memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bala’.
Sedangkan masalah sumpah untuk menghormati undang-undang, maka hendaknya dia bersumpah unutk menghormati undang-undang selama tidak bertentangan dengan syariat. Dan semua amal itu tergantung pada niatnya di mana setiap orang akan mendapat sesuai yang diniatkannya.
Namun tindakan meninggalkan majelis ini buat orang-orang bodoh, fasik dan sekuler adalah perbuatan ghalat (rancu) yang tidak menyelesaikan masalah. Demi Allah, seandainya ada kebaikan untuk meninggalkan majelis ini, pastilah kami akan katakan wajib menjauhinya dan tidak memasukinya. Namun keadaannya adalah sebaliknya. Mungkin saja Allah SWT menjadikan kebaikan yang besar di hadapan seorang anggota parlemen. Dan dia barangkali memang benar-benar mengausai masalah, memahami kondisi masyarakat, hasil-hasil kerjanya, bahkan mungkin dia punya kemampuan yang baik dalam berargumentasi, berdiplomasi dan persuasi, hingga membuat anggota parlemen lainnya tidak berkutik. Dan menghasilkan kebaikan yang banyak. (lihat majalah Al-Furqan – Kuwait hal. 18-19)
Jadi kita memang perlu memperjuangkan Islam di segala lini termasuk di dalam parlemen. Asal tujuannya murni untuk menegakkan Islam. Dan kami masih punya 13 ulama lainnya yang juga meminta kita untuk berjuang menegakkan Islam lewat parlemen. Insya Allah SWT pada kesempatan lain kami akan menyampaikan pula. Sebab bila semua dicantumkan di sini, maka pastilah akan memenuhi ruang ini. Mungkin kami akan menerbitkannya saja sebagai sebuah buku tersendiri bila Allah SWT menghendaki.
3. Pendapat Imam Al-’Izz Ibnu Abdis Salam
Dalam kitab Qawa’idul Ahkam karya Al-’Izz bin Abdus Salam tercantum: Bila orang kafir berkuasa pada sebuah wilayah yang luas, lalu mereka menyerahkan masalah hukum kepada orang yang mendahulukan kemaslahatan umat Islam secara umum, maka yang benar adalah merealisasikan hal tersebut. Hal ini mendapatkan kemaslahatan umum dan menolak mafsadah. Karena menunda masalahat umum dan menanggung mafsadat bukanlah hal yang layak dalam paradigma syariah yang bersifat kasih. Hanya lantaran tidak terdapatnya orang yang sempurna untuk memangku jabatan tersebut hingga ada orang yang memang memenuhi syarat.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami menurut pandangan imam rahimahullah, bahwa memangku jabatan di bawah pemerintahan kafir itu adalah hal yang diperlukan. Untuk merealisasikan kemaslahatan yang sesuai dengan syariat Islam dan menolakmafsadah jika diserahkan kepada orang kafir. Jika dengan hal itu maslahat bisa dijalankan, maka tidak ada larangan secara sya’ri untuk memangku jabatan meski di bawah pemerintahan kafir.
Kasus ini mirip dengan yang terjadi di masa sekarang ini di mana seseorang menjabat sebagai anggota parlemen pada sebuah pemeritahan non Islam. Jika melihat pendpat beliau di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi anggota parlemen diperbolehkan.
4. Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Dalam kitab Thuruq Al-Hikmah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691- 751 H) dalam kitabnya At-Turuq al-Hukmiyah menulis:
Masalah ini cukup pelik dan rawan, juga sempit dan sulit. terkadang sekelompok orang melewati batas, meng hilangkan hak-hak,dfan mendorong berlaku kejahatan kepada kerusakan serta menjadikasn syariat itu sempi sehingga tidak mampu memberikan jawaban kepada pemeluknya. dan menghalangi diri mereka dari jalan yang benar, yaitu jalan untuk mengetahui kebenaran dan menerapkannya. Sehingga mereka menolak hal tersebut, pada hal mereka dan yang lainnya tahu secara pasti bahwa hal itu adalah hal yang wajib diterapkan namun mereka menyangkal bahwa hal itu bertentangan dengan qowaid syariah.
Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak sesuai yang dibawa rosulullah, yang menjadikan mereka berpikir seperti itu kurang nya mereka dalam memahami syariah dan pengenalan kondisi lapangan atau keduanya, sehingga begitu mereka melihat hal tersebut dan melihat orang-orang melakukan halyang tidak sesuai yang dipahaminya, mereka melakukan kejahatan yang panjang, kerusakan yang besar.mka permasalahannya jadi terbalik.
Di sisi lain ada kelompok yang berlawanan pendapatnya dan menafikan hukum allah dan rosulnya. Kedua kelompok di atas sama-sama kurang memahami risalah yang dibawa rosulnya dan diturunkan dalam kitabnya, padahal Allah swt. telah mengutus rasulnya dan menurunkan kitabnya agar manusia menjalankan keadilan yang dengan keadilan itu bumi dan langit di tegakkan. Bila ciri-ciri keadilan itu mulai nampak dan wajahnya tampil dengan beragam cara mak itulah syariat allah dan agamanya. Allah swt maha tahu dan maha hakim untuk memilih jalan menuju keadilan dan memberinya ciri dan tanda. maka apapun jalan yang bisa membawa tegaknya keadilan maka itu adalah bagian dari agama, dan tidak bertentangan dengan agama.
Maka tidak boleh dikatakan bahwa politik yang adil itu berbeda dengan syariat, tetapi sebaliknya justru sesuai dengan syariat, bahkan bagian dari syariat itru sendiri. kami menamakannya sebagai politik sekedar mengikuti istilah yang Anda buat tetapi pada hakikatnya merupakan keadilan allah dan rosulnya.
Imam yang muhaqqiq ini mengatakan apapun cara untuk melahirkan keadilan maka itu adakah bagian dari agama dan tidak bertentangan dengannya. Jelasnya bab ini menegaskan bahwa apapun yang bisa melahirkan keadilan boleh dilakukan dan dia bagian dari politik yang sesuai dengan syariah. Dan tidak ada keraguan bahwa siapa yang menjabat sebuah kekuasaan maka ia harus menegakkan keadilan yang sesuai dengan syariat. Dan berlaku ihsan bekerja untuk kepentingan syariat meskipun di bawah pemerintahan kafir.
5. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan
Syekh Shaleh Alfauzan ditanya tentang hukum memasuki parlemen. Syekh Fauzan balik bertanya, “Apa itu parlemen?” Salah seorang peserta menjawab “Dewan legislatif atau yang lainnya” Syekh, “Masuk untuk berdakwah di dalamnya?” Salah seorang peserta menjawab, “Ikut berperan serta di dalamnya” Syekh, “Maksudnya menjadi anggota di dalamnya?” Peserta, “Iya.”
Syeikh: “Apakah dengan keanggotaan di dalamnya akan menghasilkan kemaslahatan bagi kaum muslimin? Jika memang ada kemaslahatan yang dihasilkan bagi kaum muslimin dan memiliki tujuan untuk memperbaiki parlemen ini agar berubah kepada Islam, maka ini adalah suatu yang baik, atau paling tidak bertujuan untuk mengurangi kejahatan terhadap kaum muslimin dan menghasilkan sebagian kemaslahatan, jika tidak memungkinkan kemaslahatan seluruhnya meskipun hanya sedikit.”
Salah seorang peserta, “Terkadang didalamnya terjadi tanazul (pelepasan) dari sejumlah perkara dari manusia.”
Syeikh: “Tanazul yang dimaksud adalah kufur kepada Allah atau apa?”
Salah seorang peserta, “Mengakui.”
Syeikh: “Tidak boleh. adanya pengakuan tersebut. Jika dengan pengakuan tersebut ia meninggalkan agamanya dengan alasan berdakwah kepada Allah, ini tidak dibenarkan. Tetapi jika mereka tidak mensyaratkan adanya pengakuan terhadap hal-hal ini dan ia tetap berada dalam keIslaman akidah dan agamanya, dan ketika memasukinya ada kemaslahatan bagi kaum muslimin dan apa bila mereka tidak menerimanya ia meninggalkannya, apa mungkin ia bekerja untuk memaksa mereka?
Tidak mungkin kan untuk melakukan hal tersebut. Yusuf as ketika memasuki kementrian kerajaan, apa hasil yang ia peroleh? atau kalian tidak tahu hasil apa yang di peroleh Nabi Yusuf as?
Atau kalian tidak tahu tentang hal ini, apa yang diperoleh Nabi Yusuf ketika ia masuk, ketika raja berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya dis isi kami” Nabi Yusuf saat itu menjawab, “Jadikan aku bendaharawan negara karena aku amanah dan pandai.” Maka beliau masuk dan hukum berada di tangannya. Dan sekarang dia menjadi raja Mesir, sekaligus nabi.
Jadi bila masuknya itu melahirkan sesuatu yang baik, silahkan masuk saja. Tapi kalau hanya sekedar menyerahkan diri dan ridho terhadap hukum yang ada maka tidak boleh. Demikian juga bila tidak mendatangkan maslahat bagi umat Islam, maka masuknya tidak dibenarkan. Para ulama berkata, “Mendatangkan manfaat dan menyempurnakannya, meski tidak seluruh manfaat, tidak boleh diiringi dengan mafsadat yang lebih besar.”
Para ulama mengatakan bahwa Islam itu datang dengan visi menarik maslahat dan menyempurnakannya serta menolak mafsadah dan menguranginya. maksudnya bila tidak bisa menghilangkan semua mafsadat maka dikurangi, mendapatkan yang terkecil dari dua dhoror, itu yang diperintahkan. Jadi tergantung dari niat dan maksud seseorang dan hasil yang diperolehnya. Bila masuknya lantaran haus kekuasaan dan uang lalu diam atas segala penyelewengan yang ada, maka tidak boleh. Tapi kalau masuknya demi kemaslahatan kaum muslimin dan dakwah kepada jalan Allah, maka itulah yang dituntut. Tapi kalau dia harus mengakui hukum kafir maka tidak boleh, meski tujuannya mulia. seseorang tidak boleh menjadi kafir dan berkata “Tujuan saya mulia, saya berdakwah kepada Allah,” tidak tidak boleh itu.”
Salah seorang peserta, “Apa yang menjadi jalan keluarnya?”
“Jalan keluarnya adalah jika memang di dalamnya ada maslahat bagi kaum muslimin dan tidak menghasilkan madharat bagi dirinya, maka hal tersebut tidak bertentangan. Adapun jika tidak ada kemaslahatan di dalamnya bagi kaum muslimin atau hal tersebut mengakibatkan adanya kemadorotan yaitu pengakuan yaitu pengakuan akan kekufuran, maka hal tersebut tidak diperbolehkan” (Rekaman suara)
6. Syaikh Abdullah bin Qu’ud
Sebagian orang-orang meremehkan partai-partai politik Islam yang terdapat di sejumlah negara-negara Islam seperti Aljazair, Yaman, Sudan dan yang lainnya. Mereka yang ikut didalamnya dituduh dengan tuduhan sekuler dan lain-lainnya. Apa pendapat Anda tentang hal tersebut? Sikap atau peran apa yang harusnya dilakukan oleh kaum muslimin untuk menyikapi kondisi tersebut?
Jawaban : Akar persoalan dari semua itu adalah adanya dominasi sebagian para dai terhadap yang lainnya. Dan saya berpendapat bahwa seorang muslim yang diselamatkan Allah dari malapetaka untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta berdoa untuk saudara-saudaranya di Sudan, Aljazair, Tunisia dan negara-negara lainnya, ataupun bagi kaum muslimin yang berada di negeri-negeri yang jelas-jelas kafir.
Dan jika hal tersebut tidak memberikan manfaat kepada mereka, aku berpendapat minimal jangan memadhorotkan mereka. Karena sampai sekarang tidak ada bentuk solidaritas yang nyata kepada para dai tersebut padahal mereka telah mengalami berbagai ujian dan siksaan.
Dan kita wajib mendoakan kaum msulimin dan manaruh simpati kepada mereka di setiap tempat. Karena seorang mokmin adalah saudara bagi muklmin yang lainnya, jika mendengar kabar yang baik mengenai saudaranya di Sudan, Aljazair, Tunisia atau dinegeri mana saja maka hendaknya ia merespon positif dan seakan-akan ia berkata:
“Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar” (QS. An-Nisaa: 73).
Dan apa bila mendengar malapetaka yang menimpa mereka, maka hendaklah ia mendoakan untuk saudarnya-saudaranya yang sedang diuji di negeri mana saja, supaya Allah melepaskan mereka dari orang-orang yang sesat dan menjadikan kekuasaan bagi kaum muslimin dan hendaklah ia memuji Allah karena telah menjaga dirinya.
Jangan sampai ada seseorang yang bersandar dengan punggungnya di negeri yang aman lalu mencela orang-orang atau para dai yang berjuang demi Islam di bawah kedholiman dan keseweng-wenangan dan intimidasi. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan tindakan yang tidak fair. boleh jadi engkau akan mendapat ujian jika Anda tidak merespon dengan perasaan Anda apa yang dirasakan oleh kaum muslimin yang sedang mengalami ujian dari Allah..
Demikian petikan beberapa pendapat para ulama tentang dakwah lewat pemilu, partai politik, parlemen dan sejenisnya. Semoga ada manfaatnya.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.







